SURAKARTA – Musik etnik kotekan lesung sangat identik dengan Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jateng. Hampir di setiap sudut kampung musik dengan alat utama lesung (terbuat dari kayu, biasa dipakai untuk alas menumbuk padi) ini pasti ada. Jika dalam waktu bersamaan dibunyikan, wilayah seluas 772,20 km2 itu dipastikan akan riuh rendah.
Satu di antara ratusan kelompok kotekan lesung itu adalah “Dewi Sri” dari Dusun Dawung, Kelurahan Kemiri, Kecamatan Kebak Kramat, Karanganyar. Kelompok dengan pemain sebagian besar kaum perempuan ini ikut tampil dalam Solo International Ethnic Music (SIEM) di Benteng Vastenberg, Surakarta.
Dalam perhelatan akbar itu “Dewi Sri” membawa sekitar 20 personel, masing-masing sebagai penabuh lesung, vokalis, pemetik bas, penari loro blonyo, dan penari latar. Dari sekian banyak orang itu, pemain laki-laki hanya satu yaitu pemetik bas.
“Kami adalah kelompok swadaya, semua dibiayai sendiri anggota. Tapi yang penting adalah bagaimana musik etnik khas bangsa sendiri ini bisa dipertahankan keberadaannya,” kata Sunardi (48 tahun), penanggung jawab “Dewi Sri”, kepada Jurnal Nasional di dalam Benteng Vastenberg.
Perkembangan musik lesung Karanganyar bisa dikatakan sangat dahsyat beberapa tahun terakhir semenjak kepemimpinan Bupati Rina Iriani. Sebelum itu, kata Sunardi, peralatan lesung hanya tersimpan di rumah atau gudang, tanpa disentuh sedikit pun. “Saya juga punya lesung, tapi tidak digunakan apa-apa. Menumbuk padi saja ke luar daerah,” terang Sunardi.
Musik lesung atau sekarang disebut kotekan lesung sudah ada di Karanganyar sekitar tahun 1.800 ketika salah satu desa menjadi penyangga kebutuhan beras se wilayah Surakarta. Desa itu sekarang disebut Plesungan di Kecamatan Gondangrejo.
“Waktu itu wilayah Plesungan merupakan sumber pangan untuk wilayah Mangkunegaran yang berpusat di Surakarta. Hasil panen berupa padi ditumbuk di Plesungan. Nama plesungan sendiri artinya tempat lesung-lesung. Munculnya musik lesung bersamaan dengan adanya Desa Plesungan,” jelas Sunardi.
Selain sebagai alat menumbuk padi, lesung juga menjadi alat musik di kala orang beristirahat usai panen. Mereka bersenang-senang. Bukan hanya untuk alat musik, lesung pun merupakan alat komunikasi. Misalnya ada orang mau punya hajat, ia kemudian mengabarkan niatnya itu dengan memukul lesung. Fungsi ini barangkali seperti kentongan, maklum ketika itu belum ada peralatan sound system.
Sekitar 10 tahun lalu ada ahli musik lesung dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang menggali dan menelusuri musik lesung. Beberapa irama musik lesung pun dikembangkan, saat itu pusatnya di Bonoroto, Kecamatan Gondangrejo.
“Upaya itu mendapat sambutan positif Pemkab Karanganyar. Kemudian pemerintah daerah memberanikan diri memintakan hak paten bahwa musik lesung dan tari loro blonyo adalah musik khas Kabupaten Karanganyar,” ungkap Sunardi.
Loro blonyo yang dimaksud merupakan rangkaian dari musik lesung ini. Ketika lesung dibunyikan sebagai musik, dua orang penari yang berjoget dengan gerakan sederhana. Dua orang ini adalah loro blonyo (loro berasal dari Bahasa Jawa adalah dua, dan blonyo adalah dibalut atau dimasker).
Loro blonyo merupakan gambaran alat ritual untuk melambangkan keseimbangan. Misalnya ada hitam, ada putih, dan ada terang, ada gelap, yang digambarkan sebagai laki-laki dan perempuan. Loro blonyo juga merupakan lambang Dewi Sri dan Sadono.
“Ahli dari ISI Surakarta dan teman-temannya kemudian mengkreasi menjadi tari gerak, dengan perlengkapan dan gerakan sangat sederhana disesuaikan dengan taraf hidup orang desa. Mengapa pakai blonyo? Karena dulu orang kampung kalau disuruh menari malu, sehingga wajahnya diblonyo,” jelas Sunardi.
Selain merupakan seni musik etnik, kotekan lesung dan loro blonyo kadang dipakai untuk alat ritual. Kelompok “Dewi Sri” misalnya, pernah diminta tampil di Candi Sukuh dalam sebuah acara keagamaan. Gerakan-gerakan penari juga mengandung unsur religi atau keagamaan. Syair “pujine puji rahayu” yang dilantunkan vokalis atau penembang, merupakan doa keselamatan. Setelah tarian usai, penari ditaburi beras kuning dan bunga mawar sebagai symbol menolak bahaya dan malapetaka.
“Memang mengandung makna yang dalam. Sekarang sudah disosialisasikan di setiap kampong. Tahun 2006 lalu tercatat dalam rekor Muri tentang ketahanan memukul lesung sampai 18 jam nonstop,” jelas Sunardi dengan bangga.
Tanpa meninggalkan kekhasan sebagai musik etnik, kotekan lesung mulai disandingkan dengan alat musik etnik lain, seperti saron, gambang, atau rebab, dengan etnik lesung tetap dominan.
Irama lagunya juga disesuaikan dengan tingkat kecerdasan orang kampung, yaitu mudah dan sederhana. Bahkan biarpun seseorang tidak berlatar belakang kesenian, secara spontan bisa berjoget seperti loro blonyo dan bisa memukul seperti alunan nada kotekan lesung. (Heru Prasetya/Artikel ini dimuat di Harian Jurnal Nasional tahun 2007)