Tuesday, February 23, 2010

WANAGAMA, HUTAN DI TENGAH AREA TANDUS (2)


Proses penggundulan kawasan Desa Banaran, Kecamatan Playen, Gunungkidul, Provinsi DIY sebenarnya baru dimulai ketika tentara Jepang menjajah Indonesia, sekitar 1945. Mereka membabat semaunya. Itu masih ditambah penjarahan terhadap hasil hutan oleh masyarakat setempat. Jadilah, dalam kurun waktu amat singkat hutan Banaran dan sekitarnya menjadi gundul.

Sedangkan proses penghijauan berawal dari keinginan UGM memiliki lahan untuk pendidikan dan latihan bagi mahasiswanya. Sekitar 1963 dimulailah kerja sama antara perguruan tinggi tertua di Indonesia ini dengan Dinas Kehutanan Provinsi DIY sebagai pengelola hutan yang sudah berubah menjadi hamparan cadas tersebut. Awalnya, kerja sama ini untuk areal seluas 10 hektar.

Seperti menanam di atas batu. Pernyataan itu pernah disampaikan almarhumah Profesor Oemi Hani’in Suseno. Dia adalah pelopor pembangunan Hutan Wanagama dan pernah menjadi Dekan Fakultas Kehutanan UGM. Karena gigih dalam menghutankan kembali kawasan ini, Prof Oemi meraih Kalpataru tahun 1989 sebagai Pembina Lingkungan.

Bukan pekerjaan mudah. Para perintis bersama masyarakat sekitar memilih jenis pohon tertentu yang mampu bertahan hidup di tempat tandus berbatuan tersebut. Tanaman pertama yang dicoba adalah murbei (Morus alba). Alasan pemilihan tanaman ini selain karena tidak mudah rontok, daunnya juga bisa dimanfaatkan sebagai makanan ulat sutera. Ada dua hasil sekaligus, penghijauan berhasil dan memberi pekerjaan kepada masyarakat sekitar dengan memetik daun murbei. Hasil petikan itu dibeli pengelola Wanagama sebagai pakan pada budidaya ulat sutera yang juga dikembangkan di situ untuk modal pengembangan hutan. (Heru Prasetya)

No comments: