Sunday, March 14, 2010

DITEMUKAN KOLAM MANDI RAJA MAJAPAHIT


Kolam yang diduga kuat sebagai tempat mandi para raja ditemukan warga di Dusun Nglinguk, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.

Situs bersejarah ini ditemukan Ruskan (63) di belakang rumahnya secara tak sengaja. Kakek ini sedang menggali tanah untuk produksi batu bata saat menemukan bangunan dari batu bata kuno.

Saat ini, Ruskan sudah berhasil membuka kolam hingga berukuran 7 X 6 meter dengan kedalaman hampir 3 meter. Tampak jelas jika bangunan ini merupakan bangunan istimewa dengan arsitektur mewah ala kerajaan.

Penemuan ini mendapat perhatian dari Sekretaris Direktur Jendral (Setditjen) Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 11 Maret 2010.

Plt Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan Aris Soviani mengatakan, dari beberapa kali penelitian yang dilakukan pihaknya di lokasi temuan, didapatkan beberapa kesimpulan. Salah satunya, pihaknya menyakini bahwa bangunan kuno temuan Rukan itu adalah kolam pemandian.

"Kami sudah beberapa kali melakukan kajian awal atas bangunan yang sudah tampak," terang Aris Soviani.

Kolam itu ia sebut istimewa. Karena dilihat dari bangunan dan arsiteknya, kolam tersebut milik petinggi kerajaan. Menurutnya, bangunan itu mirip dengan kolam di Candi Tikus. ”Diduga kuat, kolam ini milik Raja Majapahit,” ujarnya. (Heru Prasetya/Dari Yahoo Indonesia! News, 12 Maret 2010)

DULU ADA AIR MANCUR DI YOGYA


Foto di atas merupakan bukti sejarah bahwa dulunya di Kota Yogyakarta ada air mancur, tepatnya di perempatan depan Kantor Pos Besar Yogyakarta. Di masa Orde Baru air mancur dihilangkan, dengan alasan untuk menghindari kemacetan. (Heru Prasetya)

Friday, March 12, 2010

ABDI DALEM KRATON YOGYAKARTA:BELUM PERNAH BERTEMU LANGSUNG SULTAN


Dipo Ratmanto (belakang) bersama Dipo Berdopo.

Dipo Ratmanto mengatakan, tidak pernah membandingkan besaran gaji dengan kebutuhan hidup sehari-hari. Gaji dari Kraton yang diterimanya saat ini Rp 3.000 per bulan. ”Yang penting bisa ndherek Ngarsa Dalem sudah puas dan tenang,” kata laki-laki yang bertempat tinggal di Dusun Karangjati Kulon, Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.

Pengalaman Dipo Ratmanto yang bernama kecil Suratman tak berbeda jauh dibanding seniornya tadi. Misalnya pernah bertemu Sultan Hamengku Buwono IX (almarhum) di alam mimpi. ”Saya dielus-elus oleh Ngarsa Dalem Kaping Sanga,” ungkapnya.

Meski sudah lama mengabdi di Kraton Yogyakarta, baik Dipo Berdopo maupun Dipo Ratmanto mengaku belum pernah bertemu langsung dengan Sultan Hamengku Buwono X. Bahkan jika kebetulan berpapasan dengan HB X belum tentu bisa mengenali. ”Di TV sering melihat Ngarsa Dalem, tetapi di luar belum pernah. Kalau sudah ganti baju, belum tentu mengenal,” kata Dipo Berdopo. (Heru Prasetya)

ABDI DALEM KRATON YOGYAKARTA:BERGAJI 5000 RUPIAH PER BULAN


Dipo Berdopo (depan) dan Dipo Ratmanto, dua abdi dalem Kraton Yogyakarta.

Besarkah gaji seorang abdi dalem Kraton Yogyakarta? Inilah jawaban Dipo Berdopo, salah seorang abdi dalem berpangkat Bekel Nem.

”Itu (gaji) bukan tujuan utama mengabdi di Kraton. Diterima sebagai abdi dalem saya sudah mantep. Hidup rasanya lebih tentrem, ayem, dan rejeki lancar,” jelas laki-laki bertinggi badan 110 sentimeter ini.

Ia tidak sungkan ketika menyebut gaji sebagai Jejer besarnya Rp 3.000 per bulan. Itu ia alami selama lima tahun. Karena setelah itu pangkatnya naik menjadi Bekel Nem dengan gaji Rp 5.000 per bulan sampai sekarang.

Jelas, jika abdi dalem dianggap pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari, gaji tersebut hanya cukup untuk sekali makan satu orang.

Tapi, seperti dikatakan Ngatiran alias Dipo Berdopo, menjadi abdi dalem lebih untuk ketenteraman dan ketenangan hidup. Seakan dengan berbaur dalam satu lingkungan bersama Sultan Hamengku Buwono segala hal untuk menjalani hidup menjadi enteng.

Seperti abdi dalem lainnya, ayah dari seorang anak berumur 12 tahun yang duduk di kelas 6 Sekolah Dasar (SD) ini hanya perlu datang di Kraton sekali dalam 12 hari untuk melaksanakan tugas sebagai penjaga Gedong Regol Gapura Bangsal Ksatriyan. Di Bangsal ini disimpan gamelan milik Kraton, seperti Kyai Gunturmadu dan Nagawilaga. Keduanya adalah gamelan yang dikeluarkan dan dibunyikan tiap tahun pada perayaan Sekaten.

Pada tiap kedatangan ke Kraton, Dipo Berdopo melalui liku-liku transportasi. Dari rumahnya ia berjalan kaki sekitar empat (4) kilometer ke jalan raya terdekat. Dari sisi menumpang angkutan desa berupa kendaraan bak terbuka sejauh sekitar tujuh (7) kilometer sampai di Jalan Piyungan, kemudian dilanjutkan dengan naik bus umum dua kali untuk sampai di Kraton. Biaya satu kali jalan sampai Kraton Rp 6.000.

”Saya dari rumah pukul 06.00, sampai di Kraton sekitar pukul 09.00. Piket di sini sehari semalam. Pulang keesokan harinya setelah pengganti piket datang. Bermalam di salah satu ruang di Regol Gapura ini. Satu kelompok piket terdiri sembilan orang,” jelas Dipo Berdopo yang di rumahnya mengolah tanah tegalan, merawat dua ekor sapi serta beberapa ekor ayam ini.

Suami Paikem (31 tahun) yang hanya sempat sekolah hingga kelas II SD ini mengaku punya pengalaman aneh-aneh ketika sedang bertugas di Kraton, terutama pada malam hari. Misalnya ada suara pintu gerbang diketuk dari luar, tetapi ketika dibukakan ternyata tidak ada orang. Ia juga pernah seperti dikejar-kejar harimau. (Heru Prasetya)

ABDI DALEM KRATON YOGYAKARTA: DULU PENJUAL SAYUR MAYUR


Kraton Yogyakarta dilihat dari Alun-alun Utara.


Ngatiran tidak pernah bercita-cita menjadi abdi dalem. Ia bahkan tidak pernah secara khusus mendaftarkan diri sebagai salah satu perangkat di dalam Kraton.

Tawaran sebagai abdi dalem datang sekitar 16 tahun lalu. Saat itu Ngatiran sedang berjualan rokok berkeliling di sekitar Jalan Malioboro. Ada kenalan yang sehari-harinya berjualan sayur mayur di Pasar Beringharjo menawari sebagai abdi dalem Kraton Yogyakarta. Karena tidak tahu harus menjawab apa, laki-laki ini mengatakan akan berpikir-pikir dulu dalam beberapa hari.

”Ketika itu saya benar-benar tidak tahu menjadi abdi dalem itu seperti apa, sehingga saya merasa perlu memikirkan dulu tawaran tersebut,” papar Ngatiran dalam Bahasa Jawa patah-patah.

Beberapa hari kemudian, setelah dirinya merasa mantap, ia datang ke Kraton untuk mengutarakan kesanggupan menjadi abdi dalem. Tidak ada seleksi administrasi maupun seleksi fisik, pihak Kraton langsung menyatakan menerima. Sejak itulah predikat abdi dalem melekat pada dirinya. Lima tahu berikutnya ia memperoleh pangkat pertama sebagai abdi dalem yaitu Jejer dengan nama Dipo Berdopo. (Heru Prasetya)

ABDI DALEM KRATON YOGYAKARTA: GANTI NAMA SETELAH MENDAPAT ”KEKANCINGAN”


Nama laki-laki dalam foto ini adalah Dipo Berdopo, 56 tahun. Nama aslinya Ngatiran, kelahiran Bantul dan kini tinggal bersama istrinya di Dusun Srumbung, Desa Pengkok, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Mengapa berganti nama? ”Setelah menjadi abdi dalem di sini kemudian diberi kekancingan (surat keputusan) dari Kraton dengan nama Dipo Berdopo. Jadi nama itu peparing (pemberian) Ngarsa Dalem (maksudnya Sultan Hamengku Buwono – kini ke X),” jelas Dipo Berdopo sambil duduk bersila di sebelah timur Bangsal Kencono, Kompleks Kraton Yogyakarta.

Pagi itu ia berbusana tradisional Jawa. Tatap matanya teduh, tidak terpengaruh hilir mudik wisatawan yang berkunjung. Pepohonan rimbun di sekitarnya menambah betah duduknya meski hanya beralaskan tanah pasir. Sebagai abdi dalem, kini Dipo Berdopo berpangkat Bekel Nem.

Abdi dalem adalah masyarakat umum yang mengabdi dengan kewajiban yang sudah ditetapkan, seperti menjaga kawasan tertentu milik Kraton. Saat itu ia duduk bersama Dipo Ratmanto (66 tahun), abdi dalem berpangkat Jejer, satu pangkat lebih rendah dibanding Bekel Nem. (Heru Prasetya)

Tuesday, March 09, 2010

MALIOBORO TAHUN 1925


Banyak orang mengatakan “tidak lengkap datang di Yogya jika tidak ke Malioboro”. Malioboro adalah nama ruas jalan utama di Yogyakarta. Tidak panjang, hanya sekitar dua kilometer, dari Stasiun Tugu hingga perempatan Toko Ramai. Untuk sampai di perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta, Jalan Malioboro disambung oleh Jalan Ahmad Yani. Sebagai jalan utama, Malioboro sangat padat. Tapi foto yang ada di sini menggambarkan ”situasi damai” di ruas jalan itu tahun 1925. Sayang sekali, ketika merepro foto ini saya tidak mendapatkan siapa pemotret sebenarnya. (Heru Prasetya)

Thursday, March 04, 2010

TUGU YOGYA SIMBOL BERSATUNYA RAKYAT DAN PENGUASA


(Tugu Yogya 1928)

Tugu Yogya adalah salah satu bangunan peninggalan Sultan Hamengku Buwono I. Pembangunan Tugu dilakukan untuk memperingati rasa kebersamaan raja (pada waktu itu Pangeran Mangkubumi) dengan rakyat untuk melawan Belanda. Tugu tersebut dibangun setahun setelah Perjanjian Gianti dengan ketinggian 25 meter.
Posisi Tugu sekarang berada di perempatan, membatasi empat jalan besar yaitu Jalan Mangkubumi (ke selatan), Jalan AM Sangaji (ke utara), Jalan Jenderal Sudirman (ke timur), dan Jalan Pangeran Diponegoro (ke barat).

Puncak Tugu awalnya menjadi titik pandangan Sultan sewaktu menghadiri upacara Grebeg di Bangsal Manguntur, di Sitihinggil Lor. Bangsal Manguntur posisinya di Keraton Yogyakarta, sekitar tiga kilometer dari Tugu ke arah selatan.

Dalam bahasa Belanda, Tugu Yogya lebih terkenal dengan sebutan white paal. Sedangkan masyarakat Yogyak generasi tua sering menyebutnya Tugu Pal Putih. Ada juga masyarakat yang menyebut Tugu Golong Gilig. Hal itu tidak terlepas dari ciri-ciri fisik bangunan itu.

Bentuknya memang gilig (bulat panjang) dengan puncak berbentuk bola atau bulat (golong). Golong gilig juga dimaksudkan sebagai simbol rasa kebersamaan rakyat dan raja dalam melawan Belanda. Menyatunya niat, kehendak, dan tindakan.

Tugu ini pernah runtuh pada 10 Juni 1867 karena gempa bumi hebat pada waktu itu. Oleh penguasa Belanda, kemudian dirombak pada 1889 sehingga mengalami perubahan bentuk seperti sekarang ini dan tingginya tinggal 15 meter.

Perombakan dilakukan agar Tugu tidak lagi menjadi simbol kebersamaan rakyat dengan raja. (Heru Prasetya/Diolah dari Berbagai Sumber)

BOROBUDUR PERNAH PORAK PORANDA


Candi Borobudur akan selalu menjadi tempat menarik untuk dikunjungi. Dari lukisan tahun 1898 karya W.O.J. Nieuwenkamp terlihat bahwa peninggalan sejarah di wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, ini pernah porak poranda. (Heru Prasetya)

MELIHAT BOROBUDUR DARI DESA


Candi Borobudur di wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tidak hanya indah dilihat dari depan. Beberapa desa di sekitarnya juga menjadi lokasi tidak kalah menarik untuk menyaksikan kebesaran karya para pendahulu bangsa ini, sekaligus menyaksikan kesibukan warga menjalankan aktivitas keseharian mereka. (Heru Prasetya)