Tuesday, February 07, 2012

KALIGRAFI SIDIK LAKU RP 20 JUTA

JOGJA - Kolaborasi seni tari kontemporer dengan seni kaligrafi Tiongkok memukai ratusan penonton pembukaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) VII di Ketandan, Kamis malam (2/2). Bahkan karya kaligrafi yang dihasilkan dalam performance art tersebut langsung terjual dengan harga Rp 20 juta.
Pertunjukan tari yang dibawakan koreografer Didik Ninik Thowok bersama seniman kaligrafi Sidik W. Martowidjojo sarat dengan perpaduan budaya Tiongkok. Didik menampilkan gerakan tari Jawa, Bali, Jepang, hingga Tiongkok. Dia juga menyuguhkan parodi lagu Alamat Palsu-nya Ayu Ting-Ting. Di akhir tarian, pemilik nama asli Kwee Tjoen Lian itu menggelar kain putih 1x2 meter di tengah panggung. Kain putih bersih tersebut kemudian dipakai Sidik W. Martowidjojo untuk melukis kaligrafi Tiongkok. Dalam sekejap mata, dia menorehkan kata ’’Lun’’ atau naga dalam aksara Tiongkok. Goresannya begitu tegas dan estetis.
’’Arti tulisan ini adalah naga, sesuai dengan semangat tahun naga air yang penuh gelora,’’ ujar Sidik. Kaligrafi itu lantas dilelang secara terbuka di depan para undangan pembukaan PBTY. Hasilnya, Hotel Ritz Carlton membeli karya itu dengan harga Rp 20 juta.
Didik Ninik Thowok mengaku tidak mengalami kesulitan dalam menarikan tarian Tiongkok. Pria berdarah Tionghoa itu mengaku telah lama tertarik dengan tarian bernuansa oriental.
’’Saya kan punya dasar gerak dan mendalami tari Jawa, Bali, Jepang, dan Tiongkok. Berbekal banyak tarian tersebut, saya memiliki banyak perbendaharaan teknik tari. Tunggu saja kejutannya di Pekan Budaya Tionghoa,” ujar dia.
Sementara itu, Sidik W. Martowidjojo menyatakan kesenangannya bisa berkolaborasi performance art bersama seniman besar Didik Nini Thowok. Apalagi disaksikan langsung oleh Gubernur DIJ Sri Sultan HB X itu. Sidik saat ini menekuni seni lukis perpaduan Tionghoa dan Barat. Pemilik galeri lukis Sidik W. Martowardjojo di Jakarta ini memadukan teknik melukis Tiongkok kuno dengan motif seni lukis Eropa.
Dalam beberapa hari mendatang Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta VII akan menghadirkan pentas seni, lomba karaoke Mandarin, lomba bahasa Mandarin, pentas wayang Po Tay Hie, fortune teller, bazar dan kuliner, serta Karnaval Budaya Jogja Dragon. PBTY VII dipusatkan di Kampung Ketandan, Jl Malioboro, hingga 6 Februari mendatang. (leg/ari/JAWA POS-Radar Jogja, 4 Februari 2012)

MUHAMMADIYAH MINIM PEMBERITAAN

JOGJA - Muhammadiyah adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM) terbesar di Indonesia. Karya sosialnya tidak bisa lagi dihitung, seperti di dunia pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan. Tetapi harus diakui, pemberitaan tentang peran ormas yang didirikan KH Ahmad Dahlan tidak banyak.

”Karena itulah, Muhammadiyah harus peduli kepada media. Harus diakui, kadang kita masih menganggap sepele peran media,” tegas Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIJ Muhammad Anis dalam pembukaan pelatihan jurnalistik di Gedung Erlangga, Gedongkuning, Jumar 3 Februari 2012.

Pelatihan yang diikuti sekitar 15 peserta tersebut diselenggarakan Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PWM DIJ, berlangsung hingga Sabtu (3/2/2012) ini. Beberapa materi yang disajikan adalah penulisan berita, media online, tulisan kreatif, dan kunjungan ke perusahaan media.

Ruh Muhammadiyah, lanjut Anis, adalah tabligh dan tarjih. ”Tabligh itu esensinya menginformasikan, dakwah. Menyampaikan kebenaran kepada masyarakat luas. Hal ini kan sama dengan peran media,” ungkapnya.

Ia kemudian membandingkan organisasi yang sekarang dipimpin Din Syamsuddin ini dengan beberapa organisasi yang lahir belakangan. ”Kelompok-kelompok kecil tetapi memiliki banyak bendera tersebut lebih banyak diekspose media. Ini menjadi bahan introspeksi kita semua, mengapa bisa terjadi,” papar Anis.

Seakan-akan, peran kelompok kecil tersebut jauh lebih besar dibandingkan Muhammadiyah. ”Padahal kan nggak benar? Jadi sekarang, mari kita benahi bersama,” ajaknya.

Bukan hanya untuk kepentingan penyebarluasan kegiatan organisasi, media juga mempengaruhi pendidikan. Misalnya, acara televisi yang hampir setiap saat ada da, ditonton masyarakat. Sehingga, yang mempengaruhi pendidikan tidak lagi hanya sekolah, masyarakat, dan keluarga, tetapi juga media massa.

Secara terpisah Ketua MPI Jefree Sahana mengatakan, pelatihan tersebut untuk memberi bekal praktis kepada pengurus Muhammadiyah dan organisasi otonomnya tentang penulisan berita.

”Dengan demikian, pengurus bisa menyebarluaskan informasi secara menarik kepada masyarakat luas,” kata Jefree. Pelatihan tersebut adalah yang ketiga kali diselenggarakan MPI.

Program lain yang kini sedang disusun, kata Jefree, adalah pembuatan buku sejarah Muhammadiyah DIJ. ”Kami berharap secepatnya program itu bisa direalisasikan. Proses awal sudah berjalan,” katanya. (tya/ JAWA POS – Radar Jogja, 4 Februari 2012)

BERHENTI SEKOLAH DEMI PENGOBATAN IBUNYA

Tumiyem, 45, seorang pekerja rumah tangga yang bernasib tragis. Ia lumpuh ketika menjadi pekerja rumah tangga di Pekanbaru. Kini memperoleh perawatan di RS Wirosaban. Si buah hati, Andi Kurniawan, 16, pun harus berhenti sekolah.

SANDHY ADITYA, Jogja

MENGENAKAN kemeja hitam garis-garis serta celana jins panjang biru, Andi Kurniawan duduk di depan ruang Edelwis RS Wirosaban, Jogja, Jumat (3/2) sekitar 14.00. Ia asyik bermain game di handphonenya sambil menunggu Anton Suparyanto, 46, warga Madumurti, Bugisan, Jogjakarta.

”Mas Anton ini yang merawat saya sejak ibu sakit. Ketika itu ibu menjadi pembantu rumah tangga di Pekanbaru,” kata Andi membuka pembicaraan dengan Radar Jogja.

Sekitar Oktober 2011, Tumiyem, warga Dukuh Ngalian RT 3 RW 6, Desa Bono, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, merasakan penderitaan di tempatnya bekerja di Pekanbaru, Riau. Dalam keadaan lumpuh, ibu dua anak ini merasa ditelantarkan pihak penyalur tenaga kerja.

Tumiyem juga tidak pernah menerima gaji selama bekerja. ”Ibu saya setelah lumpuh, dirawat di rumah sakit Pekanbaru,” katanya.

Menurut Andi, setelah ayahnya meninggal, Tumiyem berkeinginan bekerja di Jakarta untuk membiayai hidup keluarga. ”Kami sudah melarang, tapi ibu tetap bertekad berangkat,” tambah Andi.

Karena Tumiyem tetap bersikeras, akhirnya anak-anaknya mengizinkan. Keberangkatan perempuan ini ditemani Andi yang saat itu sudah lulus SMP.

Keduanya kemudian mendaftar ke Yayasan Citra Kartini dan rencananya akan ditempatkan di Jakarta. Ternyata, Andi mendapat panggilan terlebih dahulu disbanding ibunya. Ia bekerja di salah satu restoran di Jakarta. Sejak saat itu, tidak ada komunikasi ibu dan anak tersebut.

Tanpa sepengetahuan Andi, ternyata sang ibu yang tidak bisa baca-tulis ditempatkan di Pekanbaru sebagai pembantu rumah tangga. Namun, ketika sedang melakukan pekerjaannya, ia tiba-tiba terjatuh.

”Saya tidak tahu kalau ibu ditempatkan di Pekanbaru. Katanya, saat mau ke pasar, terjatuh. Mungkin karena penyakit darah tingginya,” tutur Andi.

Ketika salah satu keluarga mengadakan hajatan, Andi pulang kampung. Ia bermaksud mencari tahu keberadaan ibunya melalui yayasan yang memberangkatkan keduanya. Dari informasi yang diperoleh, ibunya dipekerjakan di Jakarta, tapi tidak jelas lokasinya.

Saat kembali ke Jakarta, Andi bertemu dengan Anton di Stasiun Pasar Senen. ”Kami sama-sama naik Kereta Api Progo,” ucap Anton.

Andi bercerita tentang keinginannya mencari sang ibunda sambil bekerja. ”Sejak saat itulah saya mengasuhnya dan menyuruhnya sekolah di SMK Putra Tama, karena ia senang dunia broadcast. Dia pintar, jadi sering ranking satu,” tambahnya.

Setelah mendengar pemberitaan di salah satu stasiun televisi, Andi yang baru semester satu segera menghubungi Anton dan mengatakan bahwa ibunya telah ditemukan. Dengan biaya dari Anton, Andi menengok ibunya yang sudah berada di RSUD Arifin Ahmad, Pekanbaru.

”Saat Andi di sana, dia ditekan oleh pihak-pihak yang mengaku menemukan ibunya dan telah menghabiskan biaya Rp 27 juta. Karena takut, Andi mengaku sebagai relawan,” katanya.

Anton pun menghubungi Dinas Sosial Jakarta untuk proses perawatan dan pemulangan Tumiyem. Setelah dua perwakilan datang ke Pekanbaru serta peliputan media televisi, akhirnya Tumiyem dipulangkan.

Namun kepulangan ke daerah asalnya justru memperparah penyakitnya. Akhirnya Tumiyem dibawa ke RS Wirosaban untuk perawatan selanjutnya. ”Selama di Klaten, ibu sudah menjalani berbagai pengobatan, baik alternatif maupun herbal. Namun belum juga sembuh,” paparnya.

Setelah ibunya masuk RS Wirosaban, Andi memilih berhenti sekolah SMK Putra Tama Bantul kelas I. Ia kemudian bekerja di laundry dengan penghasilan Rp 10 ribu per hari. Pihak sekolah sempat menanyakan, Andi menjelaskan apa adanya.

”Saya sebenarnya masih ingin sekolah. Tapi keadaan memaksa untuk berhenti,” ujar Andi.

Sekitar satu jam bercerita, Andi kedatangan Arif Wahyudi, 22. Ia adalah kakak yang baru datang ke rumah sakit setelah dihubungi sekitar tiga hari lalu. Arif tinggal di Wonosari, sudah lama tidak bertemu adik dan ibunya. Suasana harupun tidak terelakkan lagi. ”Kulo nyuwun ngapunten Bu,” ucap Arif sambil menitikkan air mata dan mengelus pipi ibunya. (*/tya/JAWA POS–Radar Jogja, 4 Februari 2012)