Thursday, February 18, 2010

BERLALUNYA KEJAYAAN DALEM KALITAN

Dalem Kalitan di Solo, Jawa Tengah, memang menyimpan segudang misteri. Seberapa besar ikut menentukan maju-mundurnya bangsa semasa kepemimpinan Soeharto? Juga seberapa besar pengaruhnya terhadap pemikiran Soeharto ketika itu?

Menurut kisah Kelik, salah satu kerabat di Dalem Kalitan, saat Tien Soeharto meninggal dunia, banyak orang menyaksikan ada seleret cahaya ke luar dari atap kompleks tersebut. Pertanda apa? Tidak ada yang bisa memastikan.

Apa kesan warga sekitar tentang Dalem Kalitan? “Dulu, Pak Harto sering ke luar Dalem Kalitan lewat pintu belakang. Warga sering kaget karena melihat beliau jalan-jalan di kampung sini,” kata Sukirman, Ketua RW I Penumping, Laweyan. RW I Penumping berbatasan langsung dengan bagian belakang Dalem Kalitan.

Warga setempat juga merasa senang dengan “hadirnya“ Dalem Kalitan di situ. Apa pasal? Bisa dipastikan setiap tahun ada bingkisan sembako dari kompleks berdinding tebal dan tinggi itu untuk warga sekitar. Bingkisan terakhir diterima warga saat Lebaran tahun 2007 lalu.

“Kejayaan“ Dalem Kalitan disangsikan kelanjutannya. Bahkan warga sekitar dengan jelas mengatakan bahwa Dalem Kalitan kini sudah sangat berubah. Tak ada lagi tamu yang berdatangan dan harus dilayani. Satuan elit juga tak tampak lagi. Kalau pun ada petugas di pos keamanan, paling banter aparat kepolisian setempat atau satpam. Kompleks di pinggir jalan aspal sempit itu tampak lebih santai dan lengang.

“Sekarang semua sudah berubah,” kata Rujiyo (73 tahun) yang sudah bekerja sebagai tukang kebun di Dalem Kalitan sejak 1977. Ia menyebut beberapa perubahan, yaitu penjagaan tidak seketat dulu, perawatan tidak lagi rutin, kedisiplinan tidak sekeras dulu, serta tamu yang datang tidak seramai dulu.

Dulu, kisah Rujiyo, pekerja di situ tidak bisa meninggalkan pekerjaan untuk sekadar beristirahat. Dalam sehari, jam kerjanya bisa mencapai 12 jam. Itu belum termasuk lembur dan sebagainya. “Ibaratnya daun jatuh saja harus langsung dibersihkan. Pokoknya, halaman harus selalu dibersihkan," paparnya.

Sekarang, usai membersihkan halaman, ia bisa mengobrol dengan pegawai lain, menikmati hiburan televisi di pos satpam, atau sekedar duduk-duduk di bawah pohon sawo kecik di halaman sisi timur.

Ada beberapa hal yang memperlihatkan perlakuan terhadap Dalem Kalitan tidak seistimewa dulu. Misalnya, hanya sedikit lampu yang dibiarkan menyala, juga banyak bohlam yang tidak terpasang, dan kolam renang di sisi timur Dalem dibiarkan kosong airnya sehingga dinding kolam tampak kusam.

Barangkali benar kata pepatah: Habis manis sepah dibuang. (Heru Prasetya)

DALEM KALITAN PERNAH DIPERLAKUKAN ISTIMEWA


Sekitar tahun 1970, saat Soeharto sudah menjadi presiden, kawasan yang kemudian dikenal dengan nama Dalem Kalitan dibeli seseorang. Siapa yang membeli, ada dua versi. Versi pertama menyebutkan pembelinya Kanjeng Pangeran Sumoharyomo, orangtua Tien Soeharto. Versi kedua menyebutkan bahwa pembelinya adalah Soeharto atas nama istrinya.

Yang pasti, sejak saat itulah Dalem Kalitan diperlakukan seperti layaknya rumah dinas presiden, yakni dengan penjagaan dari satuan elit. Tidak sembarang orang bisa masuk. Di bagian dalam terdapat tempat-tempat khusus untuk ruang kerja dan peristirahatan Soeharto dan keluarganya. Ketika Tien Soeharto belum meninggal dunia, Dalem Kalitan kerap dipakai sebagai tempat reuni keluarga besar Cendana.

“Yang bisa dipastikan, tiap bulan Ruwah, Pak Harto dan keluarga ziarah ke makam orangtua Bu Tien di Giribangun. Pada saat itulah mereka ke sini. Di luar itu, kadang-kadang juga menyempatkan mampir,“ ungkap Kelik, salah seorang kerabat dekat di Dalem Kalitan.

Bulan Ruwah merupakan bulan kedelapan dalam penanggalan Jawa. Atau jika dibandingkan dengan penanggalan Islam, maka bulan Ruwah selalu bersamaan dengan bulan Sya’ban (satu bulan sebelum Ramadhan). Dalam tradisi Jawa, bulan Ruwah dianggap waktu terbaik untuk melakukan ziarah kubur.

Perlakuan terhadap Dalem Kalitan menjadi istimewa, sehingga di mata masyarakat kompleks ini menjadi kawasan eksklusif. Tidak banyak yang tahu peristiwa apa saja yang sering terjadi di sini. Juga tidak banyak yang tahu siapa saja yang sering berkunjung di tempat ini, karena begitu mobil tamu dengan kaca tertutup masuk ke kompleks, tidak ada seorang pun yang bisa melihat siapa yang ada di dalamnya.

Tetapi menurut Kelik, hampir seluruh pejabat teras pemerintah di jaman Soeharto, pernah datang di Dalem Kalitan. Apa keperluannya? Macam-macam, katanya. “Ketika Pak Harto pas di sini, mereka melapor atau sekadar unjuk muka. Tapi ketika Pak Harto tidak di sini, saya tidak tahu apa maksudnya, mungkin sekadar kepengin didaftar bahwa sudah datang di tempat ini,“ katanya sambil tertawa.

Menurut rumor yang beredar, jika ingin menjadi pejabat atau tetap bertahan pada posisi jabatannya, maka harus sering datang di Dalem Kalitan. Ketika hal itu dikonfirmasikan ke Kelik, ia tertawa dan menjawab dengan pendek, “Mungkin saja.“ Ia sudah sering mendengar rumor seperti itu, tetapi sengaja membiarkan, karena perasaannya bangga karena orang lain mengira Kalitan adalah penentu negara. (Heru Prasetya)

DALEM KALITAN DIBANGUN AWAL ABAD 18


Semasa Soeharto masih menjadi Presiden Republik Indonesia, nama Dalem Kalitan sangat populer, bahkan menjadi salah satu lokasi tujuan wisata. Tetapi sekarang Dalem Kalitan seolah sudah dilupakan.

Kompleks rumah tradisional tersebut berada di atas tanah seluas 7.000 meter persegi, tepatnya berada di Jalan Kalitan 146 Penumping, Solo, Jawa Tengah. Seperti rumah tradisional Jawa lainnya, ruang-ruang rumahnya terdiri atas pendapa, sentong tengah, sentong kiwa, sentong tengen, gandok kiwa, dan gandok tengen.

Sedangkan di bagian depan kanan terdapat bangunan baru sederhana yang dipakai sebagai pos keamanan. Di sinilah, dulu ketika Soeharto masih memimpin negeri ini, aparat keamanan selalu berjaga.

Beberapa pohon yang tumbuh di dalam kompleks tersebut antara lain adalah sawo, mangga, dan duwet putih. Khusus pohon duwet putih, menurut penuturan Kelik alias Suparno, ditanam sendiri oleh Siti Hartinah atau Tien Soeharto beberapa waktu sebelum meninggal dunia. Istri Kelik masih saudara dekat Tien Soeharto, sehingga dipercaya sebagai pencoba setiap makanan – untuk mengetahi beracun atau tidak – yang akan dihidangkan kepada Soeharto dan istri ketika berada di Dalem Kalitan.

Mengapa disebut Kalitan? Menurut GPH Dipokusumo, putra Paku Buwono XII, kompleks tersebut dibangun awal abad 18. Sampai sebelum tahun 1965, pesanggrahan tersebut milik Paku Buwono X yang diberikan kepada putra bungsunya, Kanjeng Gusti Ratu Alit. Itulah sebabnya kompleks ini dikenal dengan nama Dalem Kalitan. (Heru Prasetya)