Dalem Kalitan di Solo, Jawa Tengah, memang menyimpan segudang misteri. Seberapa besar ikut menentukan maju-mundurnya bangsa semasa kepemimpinan Soeharto? Juga seberapa besar pengaruhnya terhadap pemikiran Soeharto ketika itu?
Menurut kisah Kelik, salah satu kerabat di Dalem Kalitan, saat Tien Soeharto meninggal dunia, banyak orang menyaksikan ada seleret cahaya ke luar dari atap kompleks tersebut. Pertanda apa? Tidak ada yang bisa memastikan.
Apa kesan warga sekitar tentang Dalem Kalitan? “Dulu, Pak Harto sering ke luar Dalem Kalitan lewat pintu belakang. Warga sering kaget karena melihat beliau jalan-jalan di kampung sini,” kata Sukirman, Ketua RW I Penumping, Laweyan. RW I Penumping berbatasan langsung dengan bagian belakang Dalem Kalitan.
Warga setempat juga merasa senang dengan “hadirnya“ Dalem Kalitan di situ. Apa pasal? Bisa dipastikan setiap tahun ada bingkisan sembako dari kompleks berdinding tebal dan tinggi itu untuk warga sekitar. Bingkisan terakhir diterima warga saat Lebaran tahun 2007 lalu.
“Kejayaan“ Dalem Kalitan disangsikan kelanjutannya. Bahkan warga sekitar dengan jelas mengatakan bahwa Dalem Kalitan kini sudah sangat berubah. Tak ada lagi tamu yang berdatangan dan harus dilayani. Satuan elit juga tak tampak lagi. Kalau pun ada petugas di pos keamanan, paling banter aparat kepolisian setempat atau satpam. Kompleks di pinggir jalan aspal sempit itu tampak lebih santai dan lengang.
“Sekarang semua sudah berubah,” kata Rujiyo (73 tahun) yang sudah bekerja sebagai tukang kebun di Dalem Kalitan sejak 1977. Ia menyebut beberapa perubahan, yaitu penjagaan tidak seketat dulu, perawatan tidak lagi rutin, kedisiplinan tidak sekeras dulu, serta tamu yang datang tidak seramai dulu.
Dulu, kisah Rujiyo, pekerja di situ tidak bisa meninggalkan pekerjaan untuk sekadar beristirahat. Dalam sehari, jam kerjanya bisa mencapai 12 jam. Itu belum termasuk lembur dan sebagainya. “Ibaratnya daun jatuh saja harus langsung dibersihkan. Pokoknya, halaman harus selalu dibersihkan," paparnya.
Sekarang, usai membersihkan halaman, ia bisa mengobrol dengan pegawai lain, menikmati hiburan televisi di pos satpam, atau sekedar duduk-duduk di bawah pohon sawo kecik di halaman sisi timur.
Ada beberapa hal yang memperlihatkan perlakuan terhadap Dalem Kalitan tidak seistimewa dulu. Misalnya, hanya sedikit lampu yang dibiarkan menyala, juga banyak bohlam yang tidak terpasang, dan kolam renang di sisi timur Dalem dibiarkan kosong airnya sehingga dinding kolam tampak kusam.
Barangkali benar kata pepatah: Habis manis sepah dibuang. (Heru Prasetya)
Thursday, February 18, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment