Tuesday, February 23, 2010

WANAGAMA, HUTAN DI TENGAH AREA TANDUS (1)


Siapa menyangsikan ketandusan wilayah Gunungkidul, Yogyakarta? Bahkan ketika disebut namanya, sudah terbayang hamparan tanah yang sebagian besar merupakan batuan tanpa pepohonan. Ini memang kenyataan. Pada musim kemarau masyarakat harus membeli air bersih untuk sekadar memandikan ternak, artinya kebutuhan manusia disingkirkan lebih dulu. Pada musim hujan kebutuhan air lebih banyak dipenuhi oleh mata air yang muncul di beberapa tempat.

Tetapi ketika memasuki Desa Banaran, Kecamatan Playen, Gunungkidul, orang dibuat tercengang. Tak ada kesan kering kerontang, tandus, atau apa pun namanya yang menggambarkan wilayah yang gersang. Sebaliknya, kawasan tersebut justru hijau, di beberapa tempat muncul mata air. Pepohonan menjulang tinggi dengan akar mencuat ke permukaan seakan mencengkeram tanah.

Itulah Wanagama, hamparan hutan negara seluas 600 hektar yang kini dikelola Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Wanagama merupakan gabungan dari dua kata “wana” dan “gama”. Kata pertama artinya hutan, sedangkan kata kedua singkatan dari Gadjah Mada (maksudnya UGM).

Didalamnya bisa dilihat aneka macam pohon tumbuh dengan subur, seperti akasia, secang, mahoni, jati, sengon, flamboyant, merbau, lamtoro, cendana, kayu putih, dan eboni. Beberapa di antaranya termasuk langka, yakni eboni atau kayu hitam (Dysporos sp.) yang bibitnya didatangkan dari Sulawesi, dan Eucalyptus asli Papua tapi justru sulit tumbuh di tempat asalnya.

“Untuk membangun Wanagama seperti ini perlu waktu yang panjang,” kata Sukirno Dwiasmoro Prianto, salah satu pengelola Wanagama.

Wanagama memang bukan hutan asli. Dahulunya kawasan tersebut sama seperti umumnya kondisi tanah Gunungkidul: kering dan tandus. Meski Sungai Oya berkelak-kelok di salah satu sisinya, tapi tidak mampu menyuburkan Desa Banaran dan sekitarnya. Istilah paling pendek untuk kawasan tersebut ketika itu adalah hutan batu, sebuah tempat yang dipenuhi hamparan batu. (Heru Prasetya)

1 comment:

akhmad said...

dengan waktu yang tidak singkat untuk merubah wanagama yang sekarang hijau dan memiliki manfaat yang tidak ternilai harganya baik sosial ekonomi dan lingkungan,khususnya lagi aspek pendidikan perlu adanya tanggung jawab semua pemangku kebijakan untuk meningkatkan lagi nilai fungsi wanagama serta bisa menjadi semangat perubahan lingkungan yang lebih lestari lagi di semua tempat dan waktu.