Sunday, December 08, 2013
KASUS UDIN: PRESEDEN BURUK PENEGAKAN HUKUM
YOGYAKARTA - Tidak terungkapnya kasus meninggalnya wartawan Fuad Muhammad Syafruddin akan menjadi preseden buruk bagi kebebasan pers serta kasus penegakan hukum pada umumnya. Masyarakat selalu dilanda ketakutan dan kekhawatiran menjadi korban kekerasan. Sedangkan para penjahat tenang menjalankan aksi, tidak ada kekhawatiran bakal tertangkap.
Penegasan tersebut muncul dalam talkshow di RRI Pro 1 Yogyakarta, Selasa 3 Desember 2013. Sebagai nara sumber dalam diskusi kerjasama RRI Pro 1 dan IRE (Institute for Research and Empowerment) Yogyakarta adalah Heru Prasetya dari AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Yogyakarta dan Machmud NR dari IRE.
“Bukan hanya wartawan, masyarakat umum pun dilanda kekhawatiran tinggi jika kasus Udin tidak terungkap. Ini menjadi preseden bahwa pembunuh bebas berkeliaran,” tegas Heru yang juga salah satu investigator kasus Udin.
Fuad Muhammad Syafruddin adalah wartawan Harian Bernas yang dipukul orang pada 13 Agustus 1996 sekitar pukul 22.45 WIB di depan rumahnya Jalan Parangtritis KM 13 Bantul, Yogyakarta. Sejak itu ia tidak sadarkan diri sampai meninggal dunia tiga hari kemudian. Jurnalis yang akrab disapa Udin tersebut dimakamkan pada 17 Agustus 1996, tepat saat bangsa Indonesia merayakan ulang tahun kemerdekaan ke-51.
Polisi pernah memaksakan Dwi Sumaji alias Iwik sebagai tersangka pembunuh. Setelah melalui beberapa kali bolak-balik berkas ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) DIY, berkas pun akhirnya diterima dan dilimpahkan ke pengadilan untuk disidangkan. Majelis hakim di Pengadilan Negeri (PN) Bantul memutus bebas Iwik, setelah sebelumnya jaksa juga menuntut bebas. Tidak ditemukan bukti keterlibatannya dalam kasus ini.
“Memang tidak mudah menegakkan keadilan. Buktinya, sampai hampir 18 tahun sekarang ini, kasus belum juga kelar. Bahkan anehnya polisi masih meyakini Iwik sebagai pelaku pembunuhan,” tegas Machmud yang pernah memimpin K@mu (Koalisi Masyarakat untuk Udin).
Bagi Heru maupun Machmud, persoalan utama pengungkapan kasus Udin adalah niat baik aparat kepolisian. Apalagi, sudah banyak fakta dan informasi diberikan masyarakat sipil ke polisi. “Tinggal sekarang, mau atau tidak (polisi) bekerja untuk mem-follow up informasi tersebut,” tutur Heru. (*)
Monday, December 02, 2013
PERJUANGAN UNTUK UDIN TAK AKAN PERNAH BERHENTI
RILIS ALIANSI JURNALIS INDEPENDEN (AJI) YOGYAKARTA
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta menyesalkan ditolaknya permohonan sidang pra peradilan kasus pembunuhan wartawan Fuad Muhammad Syafruddin di Pengadilan Negeri Sleman, Yogyakarta. Dalam putusannya, hakim tunggal Asep Koswara menganggap kasus ini tidak masuk materi praperadilan. Meski putusan mahkamah harus dihormati namun AJI Yogyakarta berpendapat seharusnya hakim berani memberikan terobosan hukum atas kasus yang mandeg selama 17 tahun terakhir.
Dalam amar putusannya, hakim Asep Koswara hanya memberikan pertimbangan pada tahap eksepsi saja. Semua fakta dan bukti yang disampaikan di pengadilan sama sekali tidak menjadi pertimbangan. Eksepsi yang diajukan pihak penasehat hukum Polda DIYditerima yaitu majelis hakim PN Sleman tidak berwenang mengadili kasus praperadilan kasus Udin karena tidak termasuk materi pra peradilan.
Sebelumnya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Yogyakarta mengajukan gugatan praperadilan di PN Sleman pada 26 November 2013. Dalam gugatannya, PWI meminta majelis hakim mengabulkan dua permohonan, yaitu memerintahkan Kepolisian Daerah DIY untuk melanjutkan kasus ini dan meningkatkan ke tahap penyidikan dan penuntutan serta meminta Polda DIY mengajukan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3).
Atas putusan ini AJI Yogyakarta menyatakan :
1. Mengajak semua elemen tidak berhenti bersinergi dalam menuntaskan kasus ini, baik lewat jalur litigasi atau non litigasi. Ditolaknya gugatan praperadilan ini tidak berarti perjuangan menuntaskan kasus pembunuhan Udin berakhir. Dalam sidang praperadilan ini terungkap, keluarga Udin yang diwakili istri almarhum Udin, Marsiyem terus mendesak agar kasus ini tuntas. Sementara itu, Dwi Sumaji alias Iwik yang bebas dari segala dakwaan sebagai pembunuh Udin juga memprotes sikap Polda DIY yang masih menganggap dia sebagai pelaku pembunuh Udin. Iwik juga mendesak polisi mencari pembunuh Udin yang sesungguhnya.
2. Mendesak Kapolri memeriksa personilnya sendiri yang pernah menyelidiki kasus ini dan bukannya malah meminta bukti-bukti dari masyarakat. Pencarian barang bukti kejahatan pidana tentunya menjadi domain polisi, bukan masyarakat. Kapolri harus memeriksa Serma Edy Wuryanto yang secara sengaja menghilangkan barang bukti. Serma Edy Wuryanto saat ini bertugas di Mabes Polri, sekantor dengan Kapolri. Hilangnya barang bukti seperti darah Udin (yang dilarung ke di Parangkusumo dan dibuang di tempat sampah) sangat melukai hati keluarga besar Udin.
3. Meminta Kapolri memeriksa Kapolres Bantul saat itu, Letkol Pol Ade Subardan. Menurut anggota AJI Yogyakarta yang juga anggota Tim Kijang Putih (investigator independen dari harian Bernas), Heru Prasetya, Ade Subardan kala itu mengatakan telah mengetahui ciri-ciri pembunuh Udin dan akan menangkapnya dalam tiga hari. Namun alih-alih mengungkap pembunuhnya, Polri justru memutasi Ade Subardan ke Papua.
Wartawan Bernas, Fuad Muhammad Syafruddin, meninggal akibat dianiaya orang tak dikenal 17 tahun lalu. Sejumlah fakta telah diberikan dari masyarakat dan jurnalis, namun polisi tak pernah menindaklanjuti temuan fakta-fakta yang diberikan masyarakat. Polisi selalu meminta bukti baru dari masyarakat dan kalangan wartawan sedangkan bukti lama belum digunakan untuk bahan penyelidikan.
Upaya mengungkap kematian Udin sejatinya tak pernah alpa dilakukan. Selama 17 tahun pula, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) selalu konsisten memperjuangkan kasus ini terungkap. Berbagai cara telah ditempuh. Kami pernah mendesak polisi agar serius menangani perkara Udin, mendesak gubernur dan DPRD DIY agar kasus ini diungkap, turun ke jalan menyuarakan ketidakadilan, mendesak presiden bahkan membawa kasus ini ke ranah internasional.
Tahu 2009 AJI menyatakan menolak penutupan kasus pembunuhan Udin. Di tahun 2010, AJI mendesak polisi agar menerbitkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) bila tak mampu menuntaskan kasus Udin. Namun tak ada tanggapan dari Polda DIY. Pada tahun 2013 ini, audiensi dengan Wakapolda DIY, Kombes Pol Ahmad Dofiri pun tak membuahkan hasil. AJI Yogyakarta bekerjasama dengan PWI dan Polda DIY pernah membuat sharing team untuk menuntaskan kasus ini. Nyatanya, hasilnya pun tak ditindaklanjuti.
AJI bersama Koalisi Masyarakat Untuk Udin (K@MU) yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat sipil seperti LBH Yogyakarta, LBH Pers Yogyakarta, JPY, ICM, Perkumpulan IDEA, Pusham UII, Pukat UGM, Persma, IRE Yogyakarta serta sejumlah elemen lainnya satu suara bahwa kasus ini harus dituntaskan.
Kematian Udin tak hanya menyangkut kepentingan jurnalis dan kebebasan pers, namun menyangkut kepentingan semua warga yang membutuhkan informasi yang sehat dari jurnalis dan media yang bekerja tanpa ancaman kekerasan. Kematian Udin sejatinya juga merupakan kejahatan kemanusiaan serta diduga sarat pelanggaran HAM karena ditengarai melibatkan aparat dan pejabat negara, selain karena sikap kepolisian yang terkesan membiarkan kasus ini tak terungkap. Artinya, kasus ini tak hanya milik kalangan jurnalis tapi juga milik semua warga.
AJI memandang upaya penuntasan kasus Udin tak pernah akan berhenti sampai polisi menangkap pelaku sebenarnya. Perjuangan itu tak terhalang soal opini kadaluarsa seperti yang diberitakan media. Sebagai upaya menuntaskan kasus Udin, AJI memilih menjadi saksi di sidang pra peradilan kasus yang berlangsung di Pengadilan Negeri Sleman, Yogyakarta. Kesaksian ini untuk mengungkapkan bahwa polisi membiarkan kasus kematian Udin tidak pernah diungkap polisi. Kami berpendapat, kasus Udin harus dituntaskan.
Yogyakarta, 2 Desember 2013
Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta
Tuesday, February 07, 2012
KALIGRAFI SIDIK LAKU RP 20 JUTA
JOGJA - Kolaborasi seni tari kontemporer dengan seni kaligrafi Tiongkok memukai ratusan penonton pembukaan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY) VII di Ketandan, Kamis malam (2/2). Bahkan karya kaligrafi yang dihasilkan dalam performance art tersebut langsung terjual dengan harga Rp 20 juta.
Pertunjukan tari yang dibawakan koreografer Didik Ninik Thowok bersama seniman kaligrafi Sidik W. Martowidjojo sarat dengan perpaduan budaya Tiongkok. Didik menampilkan gerakan tari Jawa, Bali, Jepang, hingga Tiongkok. Dia juga menyuguhkan parodi lagu Alamat Palsu-nya Ayu Ting-Ting. Di akhir tarian, pemilik nama asli Kwee Tjoen Lian itu menggelar kain putih 1x2 meter di tengah panggung. Kain putih bersih tersebut kemudian dipakai Sidik W. Martowidjojo untuk melukis kaligrafi Tiongkok. Dalam sekejap mata, dia menorehkan kata ’’Lun’’ atau naga dalam aksara Tiongkok. Goresannya begitu tegas dan estetis.
’’Arti tulisan ini adalah naga, sesuai dengan semangat tahun naga air yang penuh gelora,’’ ujar Sidik. Kaligrafi itu lantas dilelang secara terbuka di depan para undangan pembukaan PBTY. Hasilnya, Hotel Ritz Carlton membeli karya itu dengan harga Rp 20 juta.
Didik Ninik Thowok mengaku tidak mengalami kesulitan dalam menarikan tarian Tiongkok. Pria berdarah Tionghoa itu mengaku telah lama tertarik dengan tarian bernuansa oriental.
’’Saya kan punya dasar gerak dan mendalami tari Jawa, Bali, Jepang, dan Tiongkok. Berbekal banyak tarian tersebut, saya memiliki banyak perbendaharaan teknik tari. Tunggu saja kejutannya di Pekan Budaya Tionghoa,” ujar dia.
Sementara itu, Sidik W. Martowidjojo menyatakan kesenangannya bisa berkolaborasi performance art bersama seniman besar Didik Nini Thowok. Apalagi disaksikan langsung oleh Gubernur DIJ Sri Sultan HB X itu. Sidik saat ini menekuni seni lukis perpaduan Tionghoa dan Barat. Pemilik galeri lukis Sidik W. Martowardjojo di Jakarta ini memadukan teknik melukis Tiongkok kuno dengan motif seni lukis Eropa.
Dalam beberapa hari mendatang Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta VII akan menghadirkan pentas seni, lomba karaoke Mandarin, lomba bahasa Mandarin, pentas wayang Po Tay Hie, fortune teller, bazar dan kuliner, serta Karnaval Budaya Jogja Dragon. PBTY VII dipusatkan di Kampung Ketandan, Jl Malioboro, hingga 6 Februari mendatang. (leg/ari/JAWA POS-Radar Jogja, 4 Februari 2012)
Pertunjukan tari yang dibawakan koreografer Didik Ninik Thowok bersama seniman kaligrafi Sidik W. Martowidjojo sarat dengan perpaduan budaya Tiongkok. Didik menampilkan gerakan tari Jawa, Bali, Jepang, hingga Tiongkok. Dia juga menyuguhkan parodi lagu Alamat Palsu-nya Ayu Ting-Ting. Di akhir tarian, pemilik nama asli Kwee Tjoen Lian itu menggelar kain putih 1x2 meter di tengah panggung. Kain putih bersih tersebut kemudian dipakai Sidik W. Martowidjojo untuk melukis kaligrafi Tiongkok. Dalam sekejap mata, dia menorehkan kata ’’Lun’’ atau naga dalam aksara Tiongkok. Goresannya begitu tegas dan estetis.
’’Arti tulisan ini adalah naga, sesuai dengan semangat tahun naga air yang penuh gelora,’’ ujar Sidik. Kaligrafi itu lantas dilelang secara terbuka di depan para undangan pembukaan PBTY. Hasilnya, Hotel Ritz Carlton membeli karya itu dengan harga Rp 20 juta.
Didik Ninik Thowok mengaku tidak mengalami kesulitan dalam menarikan tarian Tiongkok. Pria berdarah Tionghoa itu mengaku telah lama tertarik dengan tarian bernuansa oriental.
’’Saya kan punya dasar gerak dan mendalami tari Jawa, Bali, Jepang, dan Tiongkok. Berbekal banyak tarian tersebut, saya memiliki banyak perbendaharaan teknik tari. Tunggu saja kejutannya di Pekan Budaya Tionghoa,” ujar dia.
Sementara itu, Sidik W. Martowidjojo menyatakan kesenangannya bisa berkolaborasi performance art bersama seniman besar Didik Nini Thowok. Apalagi disaksikan langsung oleh Gubernur DIJ Sri Sultan HB X itu. Sidik saat ini menekuni seni lukis perpaduan Tionghoa dan Barat. Pemilik galeri lukis Sidik W. Martowardjojo di Jakarta ini memadukan teknik melukis Tiongkok kuno dengan motif seni lukis Eropa.
Dalam beberapa hari mendatang Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta VII akan menghadirkan pentas seni, lomba karaoke Mandarin, lomba bahasa Mandarin, pentas wayang Po Tay Hie, fortune teller, bazar dan kuliner, serta Karnaval Budaya Jogja Dragon. PBTY VII dipusatkan di Kampung Ketandan, Jl Malioboro, hingga 6 Februari mendatang. (leg/ari/JAWA POS-Radar Jogja, 4 Februari 2012)
MUHAMMADIYAH MINIM PEMBERITAAN
JOGJA - Muhammadiyah adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM) terbesar di Indonesia. Karya sosialnya tidak bisa lagi dihitung, seperti di dunia pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan. Tetapi harus diakui, pemberitaan tentang peran ormas yang didirikan KH Ahmad Dahlan tidak banyak.
”Karena itulah, Muhammadiyah harus peduli kepada media. Harus diakui, kadang kita masih menganggap sepele peran media,” tegas Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIJ Muhammad Anis dalam pembukaan pelatihan jurnalistik di Gedung Erlangga, Gedongkuning, Jumar 3 Februari 2012.
Pelatihan yang diikuti sekitar 15 peserta tersebut diselenggarakan Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PWM DIJ, berlangsung hingga Sabtu (3/2/2012) ini. Beberapa materi yang disajikan adalah penulisan berita, media online, tulisan kreatif, dan kunjungan ke perusahaan media.
Ruh Muhammadiyah, lanjut Anis, adalah tabligh dan tarjih. ”Tabligh itu esensinya menginformasikan, dakwah. Menyampaikan kebenaran kepada masyarakat luas. Hal ini kan sama dengan peran media,” ungkapnya.
Ia kemudian membandingkan organisasi yang sekarang dipimpin Din Syamsuddin ini dengan beberapa organisasi yang lahir belakangan. ”Kelompok-kelompok kecil tetapi memiliki banyak bendera tersebut lebih banyak diekspose media. Ini menjadi bahan introspeksi kita semua, mengapa bisa terjadi,” papar Anis.
Seakan-akan, peran kelompok kecil tersebut jauh lebih besar dibandingkan Muhammadiyah. ”Padahal kan nggak benar? Jadi sekarang, mari kita benahi bersama,” ajaknya.
Bukan hanya untuk kepentingan penyebarluasan kegiatan organisasi, media juga mempengaruhi pendidikan. Misalnya, acara televisi yang hampir setiap saat ada da, ditonton masyarakat. Sehingga, yang mempengaruhi pendidikan tidak lagi hanya sekolah, masyarakat, dan keluarga, tetapi juga media massa.
Secara terpisah Ketua MPI Jefree Sahana mengatakan, pelatihan tersebut untuk memberi bekal praktis kepada pengurus Muhammadiyah dan organisasi otonomnya tentang penulisan berita.
”Dengan demikian, pengurus bisa menyebarluaskan informasi secara menarik kepada masyarakat luas,” kata Jefree. Pelatihan tersebut adalah yang ketiga kali diselenggarakan MPI.
Program lain yang kini sedang disusun, kata Jefree, adalah pembuatan buku sejarah Muhammadiyah DIJ. ”Kami berharap secepatnya program itu bisa direalisasikan. Proses awal sudah berjalan,” katanya. (tya/ JAWA POS – Radar Jogja, 4 Februari 2012)
”Karena itulah, Muhammadiyah harus peduli kepada media. Harus diakui, kadang kita masih menganggap sepele peran media,” tegas Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIJ Muhammad Anis dalam pembukaan pelatihan jurnalistik di Gedung Erlangga, Gedongkuning, Jumar 3 Februari 2012.
Pelatihan yang diikuti sekitar 15 peserta tersebut diselenggarakan Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PWM DIJ, berlangsung hingga Sabtu (3/2/2012) ini. Beberapa materi yang disajikan adalah penulisan berita, media online, tulisan kreatif, dan kunjungan ke perusahaan media.
Ruh Muhammadiyah, lanjut Anis, adalah tabligh dan tarjih. ”Tabligh itu esensinya menginformasikan, dakwah. Menyampaikan kebenaran kepada masyarakat luas. Hal ini kan sama dengan peran media,” ungkapnya.
Ia kemudian membandingkan organisasi yang sekarang dipimpin Din Syamsuddin ini dengan beberapa organisasi yang lahir belakangan. ”Kelompok-kelompok kecil tetapi memiliki banyak bendera tersebut lebih banyak diekspose media. Ini menjadi bahan introspeksi kita semua, mengapa bisa terjadi,” papar Anis.
Seakan-akan, peran kelompok kecil tersebut jauh lebih besar dibandingkan Muhammadiyah. ”Padahal kan nggak benar? Jadi sekarang, mari kita benahi bersama,” ajaknya.
Bukan hanya untuk kepentingan penyebarluasan kegiatan organisasi, media juga mempengaruhi pendidikan. Misalnya, acara televisi yang hampir setiap saat ada da, ditonton masyarakat. Sehingga, yang mempengaruhi pendidikan tidak lagi hanya sekolah, masyarakat, dan keluarga, tetapi juga media massa.
Secara terpisah Ketua MPI Jefree Sahana mengatakan, pelatihan tersebut untuk memberi bekal praktis kepada pengurus Muhammadiyah dan organisasi otonomnya tentang penulisan berita.
”Dengan demikian, pengurus bisa menyebarluaskan informasi secara menarik kepada masyarakat luas,” kata Jefree. Pelatihan tersebut adalah yang ketiga kali diselenggarakan MPI.
Program lain yang kini sedang disusun, kata Jefree, adalah pembuatan buku sejarah Muhammadiyah DIJ. ”Kami berharap secepatnya program itu bisa direalisasikan. Proses awal sudah berjalan,” katanya. (tya/ JAWA POS – Radar Jogja, 4 Februari 2012)
BERHENTI SEKOLAH DEMI PENGOBATAN IBUNYA
Tumiyem, 45, seorang pekerja rumah tangga yang bernasib tragis. Ia lumpuh ketika menjadi pekerja rumah tangga di Pekanbaru. Kini memperoleh perawatan di RS Wirosaban. Si buah hati, Andi Kurniawan, 16, pun harus berhenti sekolah.
SANDHY ADITYA, Jogja
MENGENAKAN kemeja hitam garis-garis serta celana jins panjang biru, Andi Kurniawan duduk di depan ruang Edelwis RS Wirosaban, Jogja, Jumat (3/2) sekitar 14.00. Ia asyik bermain game di handphonenya sambil menunggu Anton Suparyanto, 46, warga Madumurti, Bugisan, Jogjakarta.
”Mas Anton ini yang merawat saya sejak ibu sakit. Ketika itu ibu menjadi pembantu rumah tangga di Pekanbaru,” kata Andi membuka pembicaraan dengan Radar Jogja.
Sekitar Oktober 2011, Tumiyem, warga Dukuh Ngalian RT 3 RW 6, Desa Bono, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, merasakan penderitaan di tempatnya bekerja di Pekanbaru, Riau. Dalam keadaan lumpuh, ibu dua anak ini merasa ditelantarkan pihak penyalur tenaga kerja.
Tumiyem juga tidak pernah menerima gaji selama bekerja. ”Ibu saya setelah lumpuh, dirawat di rumah sakit Pekanbaru,” katanya.
Menurut Andi, setelah ayahnya meninggal, Tumiyem berkeinginan bekerja di Jakarta untuk membiayai hidup keluarga. ”Kami sudah melarang, tapi ibu tetap bertekad berangkat,” tambah Andi.
Karena Tumiyem tetap bersikeras, akhirnya anak-anaknya mengizinkan. Keberangkatan perempuan ini ditemani Andi yang saat itu sudah lulus SMP.
Keduanya kemudian mendaftar ke Yayasan Citra Kartini dan rencananya akan ditempatkan di Jakarta. Ternyata, Andi mendapat panggilan terlebih dahulu disbanding ibunya. Ia bekerja di salah satu restoran di Jakarta. Sejak saat itu, tidak ada komunikasi ibu dan anak tersebut.
Tanpa sepengetahuan Andi, ternyata sang ibu yang tidak bisa baca-tulis ditempatkan di Pekanbaru sebagai pembantu rumah tangga. Namun, ketika sedang melakukan pekerjaannya, ia tiba-tiba terjatuh.
”Saya tidak tahu kalau ibu ditempatkan di Pekanbaru. Katanya, saat mau ke pasar, terjatuh. Mungkin karena penyakit darah tingginya,” tutur Andi.
Ketika salah satu keluarga mengadakan hajatan, Andi pulang kampung. Ia bermaksud mencari tahu keberadaan ibunya melalui yayasan yang memberangkatkan keduanya. Dari informasi yang diperoleh, ibunya dipekerjakan di Jakarta, tapi tidak jelas lokasinya.
Saat kembali ke Jakarta, Andi bertemu dengan Anton di Stasiun Pasar Senen. ”Kami sama-sama naik Kereta Api Progo,” ucap Anton.
Andi bercerita tentang keinginannya mencari sang ibunda sambil bekerja. ”Sejak saat itulah saya mengasuhnya dan menyuruhnya sekolah di SMK Putra Tama, karena ia senang dunia broadcast. Dia pintar, jadi sering ranking satu,” tambahnya.
Setelah mendengar pemberitaan di salah satu stasiun televisi, Andi yang baru semester satu segera menghubungi Anton dan mengatakan bahwa ibunya telah ditemukan. Dengan biaya dari Anton, Andi menengok ibunya yang sudah berada di RSUD Arifin Ahmad, Pekanbaru.
”Saat Andi di sana, dia ditekan oleh pihak-pihak yang mengaku menemukan ibunya dan telah menghabiskan biaya Rp 27 juta. Karena takut, Andi mengaku sebagai relawan,” katanya.
Anton pun menghubungi Dinas Sosial Jakarta untuk proses perawatan dan pemulangan Tumiyem. Setelah dua perwakilan datang ke Pekanbaru serta peliputan media televisi, akhirnya Tumiyem dipulangkan.
Namun kepulangan ke daerah asalnya justru memperparah penyakitnya. Akhirnya Tumiyem dibawa ke RS Wirosaban untuk perawatan selanjutnya. ”Selama di Klaten, ibu sudah menjalani berbagai pengobatan, baik alternatif maupun herbal. Namun belum juga sembuh,” paparnya.
Setelah ibunya masuk RS Wirosaban, Andi memilih berhenti sekolah SMK Putra Tama Bantul kelas I. Ia kemudian bekerja di laundry dengan penghasilan Rp 10 ribu per hari. Pihak sekolah sempat menanyakan, Andi menjelaskan apa adanya.
”Saya sebenarnya masih ingin sekolah. Tapi keadaan memaksa untuk berhenti,” ujar Andi.
Sekitar satu jam bercerita, Andi kedatangan Arif Wahyudi, 22. Ia adalah kakak yang baru datang ke rumah sakit setelah dihubungi sekitar tiga hari lalu. Arif tinggal di Wonosari, sudah lama tidak bertemu adik dan ibunya. Suasana harupun tidak terelakkan lagi. ”Kulo nyuwun ngapunten Bu,” ucap Arif sambil menitikkan air mata dan mengelus pipi ibunya. (*/tya/JAWA POS–Radar Jogja, 4 Februari 2012)
SANDHY ADITYA, Jogja
MENGENAKAN kemeja hitam garis-garis serta celana jins panjang biru, Andi Kurniawan duduk di depan ruang Edelwis RS Wirosaban, Jogja, Jumat (3/2) sekitar 14.00. Ia asyik bermain game di handphonenya sambil menunggu Anton Suparyanto, 46, warga Madumurti, Bugisan, Jogjakarta.
”Mas Anton ini yang merawat saya sejak ibu sakit. Ketika itu ibu menjadi pembantu rumah tangga di Pekanbaru,” kata Andi membuka pembicaraan dengan Radar Jogja.
Sekitar Oktober 2011, Tumiyem, warga Dukuh Ngalian RT 3 RW 6, Desa Bono, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, merasakan penderitaan di tempatnya bekerja di Pekanbaru, Riau. Dalam keadaan lumpuh, ibu dua anak ini merasa ditelantarkan pihak penyalur tenaga kerja.
Tumiyem juga tidak pernah menerima gaji selama bekerja. ”Ibu saya setelah lumpuh, dirawat di rumah sakit Pekanbaru,” katanya.
Menurut Andi, setelah ayahnya meninggal, Tumiyem berkeinginan bekerja di Jakarta untuk membiayai hidup keluarga. ”Kami sudah melarang, tapi ibu tetap bertekad berangkat,” tambah Andi.
Karena Tumiyem tetap bersikeras, akhirnya anak-anaknya mengizinkan. Keberangkatan perempuan ini ditemani Andi yang saat itu sudah lulus SMP.
Keduanya kemudian mendaftar ke Yayasan Citra Kartini dan rencananya akan ditempatkan di Jakarta. Ternyata, Andi mendapat panggilan terlebih dahulu disbanding ibunya. Ia bekerja di salah satu restoran di Jakarta. Sejak saat itu, tidak ada komunikasi ibu dan anak tersebut.
Tanpa sepengetahuan Andi, ternyata sang ibu yang tidak bisa baca-tulis ditempatkan di Pekanbaru sebagai pembantu rumah tangga. Namun, ketika sedang melakukan pekerjaannya, ia tiba-tiba terjatuh.
”Saya tidak tahu kalau ibu ditempatkan di Pekanbaru. Katanya, saat mau ke pasar, terjatuh. Mungkin karena penyakit darah tingginya,” tutur Andi.
Ketika salah satu keluarga mengadakan hajatan, Andi pulang kampung. Ia bermaksud mencari tahu keberadaan ibunya melalui yayasan yang memberangkatkan keduanya. Dari informasi yang diperoleh, ibunya dipekerjakan di Jakarta, tapi tidak jelas lokasinya.
Saat kembali ke Jakarta, Andi bertemu dengan Anton di Stasiun Pasar Senen. ”Kami sama-sama naik Kereta Api Progo,” ucap Anton.
Andi bercerita tentang keinginannya mencari sang ibunda sambil bekerja. ”Sejak saat itulah saya mengasuhnya dan menyuruhnya sekolah di SMK Putra Tama, karena ia senang dunia broadcast. Dia pintar, jadi sering ranking satu,” tambahnya.
Setelah mendengar pemberitaan di salah satu stasiun televisi, Andi yang baru semester satu segera menghubungi Anton dan mengatakan bahwa ibunya telah ditemukan. Dengan biaya dari Anton, Andi menengok ibunya yang sudah berada di RSUD Arifin Ahmad, Pekanbaru.
”Saat Andi di sana, dia ditekan oleh pihak-pihak yang mengaku menemukan ibunya dan telah menghabiskan biaya Rp 27 juta. Karena takut, Andi mengaku sebagai relawan,” katanya.
Anton pun menghubungi Dinas Sosial Jakarta untuk proses perawatan dan pemulangan Tumiyem. Setelah dua perwakilan datang ke Pekanbaru serta peliputan media televisi, akhirnya Tumiyem dipulangkan.
Namun kepulangan ke daerah asalnya justru memperparah penyakitnya. Akhirnya Tumiyem dibawa ke RS Wirosaban untuk perawatan selanjutnya. ”Selama di Klaten, ibu sudah menjalani berbagai pengobatan, baik alternatif maupun herbal. Namun belum juga sembuh,” paparnya.
Setelah ibunya masuk RS Wirosaban, Andi memilih berhenti sekolah SMK Putra Tama Bantul kelas I. Ia kemudian bekerja di laundry dengan penghasilan Rp 10 ribu per hari. Pihak sekolah sempat menanyakan, Andi menjelaskan apa adanya.
”Saya sebenarnya masih ingin sekolah. Tapi keadaan memaksa untuk berhenti,” ujar Andi.
Sekitar satu jam bercerita, Andi kedatangan Arif Wahyudi, 22. Ia adalah kakak yang baru datang ke rumah sakit setelah dihubungi sekitar tiga hari lalu. Arif tinggal di Wonosari, sudah lama tidak bertemu adik dan ibunya. Suasana harupun tidak terelakkan lagi. ”Kulo nyuwun ngapunten Bu,” ucap Arif sambil menitikkan air mata dan mengelus pipi ibunya. (*/tya/JAWA POS–Radar Jogja, 4 Februari 2012)
Sunday, March 14, 2010
DITEMUKAN KOLAM MANDI RAJA MAJAPAHIT

Kolam yang diduga kuat sebagai tempat mandi para raja ditemukan warga di Dusun Nglinguk, Desa/Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto.
Situs bersejarah ini ditemukan Ruskan (63) di belakang rumahnya secara tak sengaja. Kakek ini sedang menggali tanah untuk produksi batu bata saat menemukan bangunan dari batu bata kuno.
Saat ini, Ruskan sudah berhasil membuka kolam hingga berukuran 7 X 6 meter dengan kedalaman hampir 3 meter. Tampak jelas jika bangunan ini merupakan bangunan istimewa dengan arsitektur mewah ala kerajaan.
Penemuan ini mendapat perhatian dari Sekretaris Direktur Jendral (Setditjen) Sejarah dan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, 11 Maret 2010.
Plt Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan Aris Soviani mengatakan, dari beberapa kali penelitian yang dilakukan pihaknya di lokasi temuan, didapatkan beberapa kesimpulan. Salah satunya, pihaknya menyakini bahwa bangunan kuno temuan Rukan itu adalah kolam pemandian.
"Kami sudah beberapa kali melakukan kajian awal atas bangunan yang sudah tampak," terang Aris Soviani.
Kolam itu ia sebut istimewa. Karena dilihat dari bangunan dan arsiteknya, kolam tersebut milik petinggi kerajaan. Menurutnya, bangunan itu mirip dengan kolam di Candi Tikus. ”Diduga kuat, kolam ini milik Raja Majapahit,” ujarnya. (Heru Prasetya/Dari Yahoo Indonesia! News, 12 Maret 2010)
DULU ADA AIR MANCUR DI YOGYA
Friday, March 12, 2010
ABDI DALEM KRATON YOGYAKARTA:BELUM PERNAH BERTEMU LANGSUNG SULTAN

Dipo Ratmanto (belakang) bersama Dipo Berdopo.
Dipo Ratmanto mengatakan, tidak pernah membandingkan besaran gaji dengan kebutuhan hidup sehari-hari. Gaji dari Kraton yang diterimanya saat ini Rp 3.000 per bulan. ”Yang penting bisa ndherek Ngarsa Dalem sudah puas dan tenang,” kata laki-laki yang bertempat tinggal di Dusun Karangjati Kulon, Desa Tamantirto, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.
Pengalaman Dipo Ratmanto yang bernama kecil Suratman tak berbeda jauh dibanding seniornya tadi. Misalnya pernah bertemu Sultan Hamengku Buwono IX (almarhum) di alam mimpi. ”Saya dielus-elus oleh Ngarsa Dalem Kaping Sanga,” ungkapnya.
Meski sudah lama mengabdi di Kraton Yogyakarta, baik Dipo Berdopo maupun Dipo Ratmanto mengaku belum pernah bertemu langsung dengan Sultan Hamengku Buwono X. Bahkan jika kebetulan berpapasan dengan HB X belum tentu bisa mengenali. ”Di TV sering melihat Ngarsa Dalem, tetapi di luar belum pernah. Kalau sudah ganti baju, belum tentu mengenal,” kata Dipo Berdopo. (Heru Prasetya)
ABDI DALEM KRATON YOGYAKARTA:BERGAJI 5000 RUPIAH PER BULAN

Dipo Berdopo (depan) dan Dipo Ratmanto, dua abdi dalem Kraton Yogyakarta.
Besarkah gaji seorang abdi dalem Kraton Yogyakarta? Inilah jawaban Dipo Berdopo, salah seorang abdi dalem berpangkat Bekel Nem.
”Itu (gaji) bukan tujuan utama mengabdi di Kraton. Diterima sebagai abdi dalem saya sudah mantep. Hidup rasanya lebih tentrem, ayem, dan rejeki lancar,” jelas laki-laki bertinggi badan 110 sentimeter ini.
Ia tidak sungkan ketika menyebut gaji sebagai Jejer besarnya Rp 3.000 per bulan. Itu ia alami selama lima tahun. Karena setelah itu pangkatnya naik menjadi Bekel Nem dengan gaji Rp 5.000 per bulan sampai sekarang.
Jelas, jika abdi dalem dianggap pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari, gaji tersebut hanya cukup untuk sekali makan satu orang.
Tapi, seperti dikatakan Ngatiran alias Dipo Berdopo, menjadi abdi dalem lebih untuk ketenteraman dan ketenangan hidup. Seakan dengan berbaur dalam satu lingkungan bersama Sultan Hamengku Buwono segala hal untuk menjalani hidup menjadi enteng.
Seperti abdi dalem lainnya, ayah dari seorang anak berumur 12 tahun yang duduk di kelas 6 Sekolah Dasar (SD) ini hanya perlu datang di Kraton sekali dalam 12 hari untuk melaksanakan tugas sebagai penjaga Gedong Regol Gapura Bangsal Ksatriyan. Di Bangsal ini disimpan gamelan milik Kraton, seperti Kyai Gunturmadu dan Nagawilaga. Keduanya adalah gamelan yang dikeluarkan dan dibunyikan tiap tahun pada perayaan Sekaten.
Pada tiap kedatangan ke Kraton, Dipo Berdopo melalui liku-liku transportasi. Dari rumahnya ia berjalan kaki sekitar empat (4) kilometer ke jalan raya terdekat. Dari sisi menumpang angkutan desa berupa kendaraan bak terbuka sejauh sekitar tujuh (7) kilometer sampai di Jalan Piyungan, kemudian dilanjutkan dengan naik bus umum dua kali untuk sampai di Kraton. Biaya satu kali jalan sampai Kraton Rp 6.000.
”Saya dari rumah pukul 06.00, sampai di Kraton sekitar pukul 09.00. Piket di sini sehari semalam. Pulang keesokan harinya setelah pengganti piket datang. Bermalam di salah satu ruang di Regol Gapura ini. Satu kelompok piket terdiri sembilan orang,” jelas Dipo Berdopo yang di rumahnya mengolah tanah tegalan, merawat dua ekor sapi serta beberapa ekor ayam ini.
Suami Paikem (31 tahun) yang hanya sempat sekolah hingga kelas II SD ini mengaku punya pengalaman aneh-aneh ketika sedang bertugas di Kraton, terutama pada malam hari. Misalnya ada suara pintu gerbang diketuk dari luar, tetapi ketika dibukakan ternyata tidak ada orang. Ia juga pernah seperti dikejar-kejar harimau. (Heru Prasetya)
ABDI DALEM KRATON YOGYAKARTA: DULU PENJUAL SAYUR MAYUR

Kraton Yogyakarta dilihat dari Alun-alun Utara.
Ngatiran tidak pernah bercita-cita menjadi abdi dalem. Ia bahkan tidak pernah secara khusus mendaftarkan diri sebagai salah satu perangkat di dalam Kraton.
Tawaran sebagai abdi dalem datang sekitar 16 tahun lalu. Saat itu Ngatiran sedang berjualan rokok berkeliling di sekitar Jalan Malioboro. Ada kenalan yang sehari-harinya berjualan sayur mayur di Pasar Beringharjo menawari sebagai abdi dalem Kraton Yogyakarta. Karena tidak tahu harus menjawab apa, laki-laki ini mengatakan akan berpikir-pikir dulu dalam beberapa hari.
”Ketika itu saya benar-benar tidak tahu menjadi abdi dalem itu seperti apa, sehingga saya merasa perlu memikirkan dulu tawaran tersebut,” papar Ngatiran dalam Bahasa Jawa patah-patah.
Beberapa hari kemudian, setelah dirinya merasa mantap, ia datang ke Kraton untuk mengutarakan kesanggupan menjadi abdi dalem. Tidak ada seleksi administrasi maupun seleksi fisik, pihak Kraton langsung menyatakan menerima. Sejak itulah predikat abdi dalem melekat pada dirinya. Lima tahu berikutnya ia memperoleh pangkat pertama sebagai abdi dalem yaitu Jejer dengan nama Dipo Berdopo. (Heru Prasetya)
ABDI DALEM KRATON YOGYAKARTA: GANTI NAMA SETELAH MENDAPAT ”KEKANCINGAN”

Nama laki-laki dalam foto ini adalah Dipo Berdopo, 56 tahun. Nama aslinya Ngatiran, kelahiran Bantul dan kini tinggal bersama istrinya di Dusun Srumbung, Desa Pengkok, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Mengapa berganti nama? ”Setelah menjadi abdi dalem di sini kemudian diberi kekancingan (surat keputusan) dari Kraton dengan nama Dipo Berdopo. Jadi nama itu peparing (pemberian) Ngarsa Dalem (maksudnya Sultan Hamengku Buwono – kini ke X),” jelas Dipo Berdopo sambil duduk bersila di sebelah timur Bangsal Kencono, Kompleks Kraton Yogyakarta.
Pagi itu ia berbusana tradisional Jawa. Tatap matanya teduh, tidak terpengaruh hilir mudik wisatawan yang berkunjung. Pepohonan rimbun di sekitarnya menambah betah duduknya meski hanya beralaskan tanah pasir. Sebagai abdi dalem, kini Dipo Berdopo berpangkat Bekel Nem.
Abdi dalem adalah masyarakat umum yang mengabdi dengan kewajiban yang sudah ditetapkan, seperti menjaga kawasan tertentu milik Kraton. Saat itu ia duduk bersama Dipo Ratmanto (66 tahun), abdi dalem berpangkat Jejer, satu pangkat lebih rendah dibanding Bekel Nem. (Heru Prasetya)
Tuesday, March 09, 2010
MALIOBORO TAHUN 1925

Banyak orang mengatakan “tidak lengkap datang di Yogya jika tidak ke Malioboro”. Malioboro adalah nama ruas jalan utama di Yogyakarta. Tidak panjang, hanya sekitar dua kilometer, dari Stasiun Tugu hingga perempatan Toko Ramai. Untuk sampai di perempatan Kantor Pos Besar Yogyakarta, Jalan Malioboro disambung oleh Jalan Ahmad Yani. Sebagai jalan utama, Malioboro sangat padat. Tapi foto yang ada di sini menggambarkan ”situasi damai” di ruas jalan itu tahun 1925. Sayang sekali, ketika merepro foto ini saya tidak mendapatkan siapa pemotret sebenarnya. (Heru Prasetya)
Thursday, March 04, 2010
TUGU YOGYA SIMBOL BERSATUNYA RAKYAT DAN PENGUASA

(Tugu Yogya 1928)
Tugu Yogya adalah salah satu bangunan peninggalan Sultan Hamengku Buwono I. Pembangunan Tugu dilakukan untuk memperingati rasa kebersamaan raja (pada waktu itu Pangeran Mangkubumi) dengan rakyat untuk melawan Belanda. Tugu tersebut dibangun setahun setelah Perjanjian Gianti dengan ketinggian 25 meter.
Posisi Tugu sekarang berada di perempatan, membatasi empat jalan besar yaitu Jalan Mangkubumi (ke selatan), Jalan AM Sangaji (ke utara), Jalan Jenderal Sudirman (ke timur), dan Jalan Pangeran Diponegoro (ke barat).
Puncak Tugu awalnya menjadi titik pandangan Sultan sewaktu menghadiri upacara Grebeg di Bangsal Manguntur, di Sitihinggil Lor. Bangsal Manguntur posisinya di Keraton Yogyakarta, sekitar tiga kilometer dari Tugu ke arah selatan.
Dalam bahasa Belanda, Tugu Yogya lebih terkenal dengan sebutan white paal. Sedangkan masyarakat Yogyak generasi tua sering menyebutnya Tugu Pal Putih. Ada juga masyarakat yang menyebut Tugu Golong Gilig. Hal itu tidak terlepas dari ciri-ciri fisik bangunan itu.
Bentuknya memang gilig (bulat panjang) dengan puncak berbentuk bola atau bulat (golong). Golong gilig juga dimaksudkan sebagai simbol rasa kebersamaan rakyat dan raja dalam melawan Belanda. Menyatunya niat, kehendak, dan tindakan.
Tugu ini pernah runtuh pada 10 Juni 1867 karena gempa bumi hebat pada waktu itu. Oleh penguasa Belanda, kemudian dirombak pada 1889 sehingga mengalami perubahan bentuk seperti sekarang ini dan tingginya tinggal 15 meter.
Perombakan dilakukan agar Tugu tidak lagi menjadi simbol kebersamaan rakyat dengan raja. (Heru Prasetya/Diolah dari Berbagai Sumber)
BOROBUDUR PERNAH PORAK PORANDA
MELIHAT BOROBUDUR DARI DESA

Candi Borobudur di wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tidak hanya indah dilihat dari depan. Beberapa desa di sekitarnya juga menjadi lokasi tidak kalah menarik untuk menyaksikan kebesaran karya para pendahulu bangsa ini, sekaligus menyaksikan kesibukan warga menjalankan aktivitas keseharian mereka. (Heru Prasetya)
Subscribe to:
Posts (Atom)




