Tumiyem, 45, seorang pekerja rumah tangga yang bernasib tragis. Ia lumpuh ketika menjadi pekerja rumah tangga di Pekanbaru. Kini memperoleh perawatan di RS Wirosaban. Si buah hati, Andi Kurniawan, 16, pun harus berhenti sekolah.
SANDHY ADITYA, Jogja
MENGENAKAN kemeja hitam garis-garis serta celana jins panjang biru, Andi Kurniawan duduk di depan ruang Edelwis RS Wirosaban, Jogja, Jumat (3/2) sekitar 14.00. Ia asyik bermain game di handphonenya sambil menunggu Anton Suparyanto, 46, warga Madumurti, Bugisan, Jogjakarta.
”Mas Anton ini yang merawat saya sejak ibu sakit. Ketika itu ibu menjadi pembantu rumah tangga di Pekanbaru,” kata Andi membuka pembicaraan dengan Radar Jogja.
Sekitar Oktober 2011, Tumiyem, warga Dukuh Ngalian RT 3 RW 6, Desa Bono, Kecamatan Tulung, Kabupaten Klaten, merasakan penderitaan di tempatnya bekerja di Pekanbaru, Riau. Dalam keadaan lumpuh, ibu dua anak ini merasa ditelantarkan pihak penyalur tenaga kerja.
Tumiyem juga tidak pernah menerima gaji selama bekerja. ”Ibu saya setelah lumpuh, dirawat di rumah sakit Pekanbaru,” katanya.
Menurut Andi, setelah ayahnya meninggal, Tumiyem berkeinginan bekerja di Jakarta untuk membiayai hidup keluarga. ”Kami sudah melarang, tapi ibu tetap bertekad berangkat,” tambah Andi.
Karena Tumiyem tetap bersikeras, akhirnya anak-anaknya mengizinkan. Keberangkatan perempuan ini ditemani Andi yang saat itu sudah lulus SMP.
Keduanya kemudian mendaftar ke Yayasan Citra Kartini dan rencananya akan ditempatkan di Jakarta. Ternyata, Andi mendapat panggilan terlebih dahulu disbanding ibunya. Ia bekerja di salah satu restoran di Jakarta. Sejak saat itu, tidak ada komunikasi ibu dan anak tersebut.
Tanpa sepengetahuan Andi, ternyata sang ibu yang tidak bisa baca-tulis ditempatkan di Pekanbaru sebagai pembantu rumah tangga. Namun, ketika sedang melakukan pekerjaannya, ia tiba-tiba terjatuh.
”Saya tidak tahu kalau ibu ditempatkan di Pekanbaru. Katanya, saat mau ke pasar, terjatuh. Mungkin karena penyakit darah tingginya,” tutur Andi.
Ketika salah satu keluarga mengadakan hajatan, Andi pulang kampung. Ia bermaksud mencari tahu keberadaan ibunya melalui yayasan yang memberangkatkan keduanya. Dari informasi yang diperoleh, ibunya dipekerjakan di Jakarta, tapi tidak jelas lokasinya.
Saat kembali ke Jakarta, Andi bertemu dengan Anton di Stasiun Pasar Senen. ”Kami sama-sama naik Kereta Api Progo,” ucap Anton.
Andi bercerita tentang keinginannya mencari sang ibunda sambil bekerja. ”Sejak saat itulah saya mengasuhnya dan menyuruhnya sekolah di SMK Putra Tama, karena ia senang dunia broadcast. Dia pintar, jadi sering ranking satu,” tambahnya.
Setelah mendengar pemberitaan di salah satu stasiun televisi, Andi yang baru semester satu segera menghubungi Anton dan mengatakan bahwa ibunya telah ditemukan. Dengan biaya dari Anton, Andi menengok ibunya yang sudah berada di RSUD Arifin Ahmad, Pekanbaru.
”Saat Andi di sana, dia ditekan oleh pihak-pihak yang mengaku menemukan ibunya dan telah menghabiskan biaya Rp 27 juta. Karena takut, Andi mengaku sebagai relawan,” katanya.
Anton pun menghubungi Dinas Sosial Jakarta untuk proses perawatan dan pemulangan Tumiyem. Setelah dua perwakilan datang ke Pekanbaru serta peliputan media televisi, akhirnya Tumiyem dipulangkan.
Namun kepulangan ke daerah asalnya justru memperparah penyakitnya. Akhirnya Tumiyem dibawa ke RS Wirosaban untuk perawatan selanjutnya. ”Selama di Klaten, ibu sudah menjalani berbagai pengobatan, baik alternatif maupun herbal. Namun belum juga sembuh,” paparnya.
Setelah ibunya masuk RS Wirosaban, Andi memilih berhenti sekolah SMK Putra Tama Bantul kelas I. Ia kemudian bekerja di laundry dengan penghasilan Rp 10 ribu per hari. Pihak sekolah sempat menanyakan, Andi menjelaskan apa adanya.
”Saya sebenarnya masih ingin sekolah. Tapi keadaan memaksa untuk berhenti,” ujar Andi.
Sekitar satu jam bercerita, Andi kedatangan Arif Wahyudi, 22. Ia adalah kakak yang baru datang ke rumah sakit setelah dihubungi sekitar tiga hari lalu. Arif tinggal di Wonosari, sudah lama tidak bertemu adik dan ibunya. Suasana harupun tidak terelakkan lagi. ”Kulo nyuwun ngapunten Bu,” ucap Arif sambil menitikkan air mata dan mengelus pipi ibunya. (*/tya/JAWA POS–Radar Jogja, 4 Februari 2012)
Tuesday, February 07, 2012
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment