JOGJA - Muhammadiyah adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM) terbesar di Indonesia. Karya sosialnya tidak bisa lagi dihitung, seperti di dunia pendidikan, kesehatan, dan kesejahteraan. Tetapi harus diakui, pemberitaan tentang peran ormas yang didirikan KH Ahmad Dahlan tidak banyak.
”Karena itulah, Muhammadiyah harus peduli kepada media. Harus diakui, kadang kita masih menganggap sepele peran media,” tegas Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIJ Muhammad Anis dalam pembukaan pelatihan jurnalistik di Gedung Erlangga, Gedongkuning, Jumar 3 Februari 2012.
Pelatihan yang diikuti sekitar 15 peserta tersebut diselenggarakan Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PWM DIJ, berlangsung hingga Sabtu (3/2/2012) ini. Beberapa materi yang disajikan adalah penulisan berita, media online, tulisan kreatif, dan kunjungan ke perusahaan media.
Ruh Muhammadiyah, lanjut Anis, adalah tabligh dan tarjih. ”Tabligh itu esensinya menginformasikan, dakwah. Menyampaikan kebenaran kepada masyarakat luas. Hal ini kan sama dengan peran media,” ungkapnya.
Ia kemudian membandingkan organisasi yang sekarang dipimpin Din Syamsuddin ini dengan beberapa organisasi yang lahir belakangan. ”Kelompok-kelompok kecil tetapi memiliki banyak bendera tersebut lebih banyak diekspose media. Ini menjadi bahan introspeksi kita semua, mengapa bisa terjadi,” papar Anis.
Seakan-akan, peran kelompok kecil tersebut jauh lebih besar dibandingkan Muhammadiyah. ”Padahal kan nggak benar? Jadi sekarang, mari kita benahi bersama,” ajaknya.
Bukan hanya untuk kepentingan penyebarluasan kegiatan organisasi, media juga mempengaruhi pendidikan. Misalnya, acara televisi yang hampir setiap saat ada da, ditonton masyarakat. Sehingga, yang mempengaruhi pendidikan tidak lagi hanya sekolah, masyarakat, dan keluarga, tetapi juga media massa.
Secara terpisah Ketua MPI Jefree Sahana mengatakan, pelatihan tersebut untuk memberi bekal praktis kepada pengurus Muhammadiyah dan organisasi otonomnya tentang penulisan berita.
”Dengan demikian, pengurus bisa menyebarluaskan informasi secara menarik kepada masyarakat luas,” kata Jefree. Pelatihan tersebut adalah yang ketiga kali diselenggarakan MPI.
Program lain yang kini sedang disusun, kata Jefree, adalah pembuatan buku sejarah Muhammadiyah DIJ. ”Kami berharap secepatnya program itu bisa direalisasikan. Proses awal sudah berjalan,” katanya. (tya/ JAWA POS – Radar Jogja, 4 Februari 2012)
Tuesday, February 07, 2012
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment