Friday, June 23, 2006

Seorang suster berjalan di depan gereja di Ganjuran, Bambanglipuro, Bantul. Beberapa bagian gereja ini memang berantakan "diterjang" guncangan gempa bumi.
Masjid yang dibangun secara swadaya oleh masyarakat di wilayah Kecamatan Bambanglipuro ini tidak mungkin lagi difungsikan. Masyarakat setempat mendirikan tenda untuk melaksanakan shalat secara berjamaah.
Ribuan rumah di wilayah Bantul luluh lantak, termasuk di Dusun Samen, Desa Sumbermulyo, Kecamatan Bambanglipuro, ini. Warga menyisir reruntuhan rumahnya untuk mencari sebagian harta terpendam yang mungkin masih bisa dimanfaatkan, termasuk sepeda motor.

Gedung Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta di Jalan Prangtritis ambles. Lantai satu melorot, diikuti lantai di atasnya.

Dua gedung di Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Kerja Sama di Jalan Parangtritis, Yogyakarta, posisinya miring akibat gempa.
Toko buku Gramedia di Jalan Jenderal Sudirman Yogyakarta rusak di beberapa bagian. Sampai hari ini (Jumat, 24 Juni 2006) masih tutup karena direnovasi.
KETIKA BUMI BERGUNCANG

Sabtu, 27 Mei 2006, sekitar pukul 05.55. Sebagian besar masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya sedang menyiapkan segala sesuatu untuk aktivitas seharian. Ada yang bersih-bersih rumah, mandi, menyiapkan sarapan, memandikan anak-anak, dan lain-lain. Dan tiba-tiba, angin berdesir sangat kencang...bumi pun berguncang dengan cepat... Semua terguncang-guncang!!!
Tak sampai satu menit. Sebagian orang sempat ke luar, sebagian lain tidak sempat. Sebagian rumah luluh lantak dihantam gempa 5,9 SR, sebagian bengkah-bengkah, dan lainnya rusak ringan. Lebih dari 6.000 orang meninggal dunia, puluhan ribu luka-luka.
Itulah gempa. Satu dari ribuah fenomena alam, yang tidak bisa ditolak oleh manusia mana pun. Sisa-sisa dokumentasi akibat gempa, mungkin akan menjadi saksi sejarah tentang peristiwa itu.
Inilah awal perkenalan kita,
Salam,
Heroe Pras