Tuesday, February 23, 2010

WANAGAMA, HUTAN DI TENGAH AREA TANDUS (4)


Tapi apakah begitu mudah membangun hutan? Tidak. Tantangan akan selalu ada, bahkan hingga kini. Tantangan paling nyata adalah pakan ternak yang langka diperoleh di Gunungkidul, sehingga masyarakat setempat mencari pakan ternak di Wanagama. Merembetnya tidak sekadar pakan ternak, tapi pohon-pohon lain.

Tepat juga penuturan Mohammad Na’iem dari Fakultas Kehutanan UGM. “Membangun hutan bukan sesuatu yang mudah. Tapi merusak hutan adalah sebaliknya, hanya dalam waktu 1-2 tahun Wanagama ini bisa hancur. Padahal pembangunannya butuh puluhan tahun,” katanya.

Dalam daftar kunjungan tercatat beberapa tokoh penting pernah sampai di tempat ini. Seperti Pangeran Charles pada 5 November 1989, Pangeran Bernhard 21 Maret 1996, dan Presiden Megawati. Belum lagi kunjungan rutin siswa SMP dari Singapura, juga dari Filipina, Thailand, Singapura, Australia, dan tentu saja dari Indonesia sendiri. (Heru Prasetya)

WANAGAMA, HUTAN DI TENGAH AREA TANDUS (3)

Penanaman demi penanaman membuahkan hasil. Kawasan yang dulu tandus sedikit demi sedikit berubah hijau. Pepohonan tumbuh di mana-mana. Dinas Kehutanan sebagai pemilik lahan memperluas areal kerja sama menjadi 79,9 hektar, dan sekarang sekitar 600 hektar yang terbagi dalam sembilan petak. Selain berfungsi sebagai hutan pendidikan dan penelitian lapangan bagi mahasiswa UGM, program itu juga untuk mencari model menanggulangi kekritisan tanah khususnya di Gunungkidul.

Saat ini di Wanagama tertanam sekitar 1500 jenis tanaman di antaranya 17 jenis kayu, 35 kayu bakar, dan 33 pohon serbaguna. Semua pohon terkait dengan iklim kering. Fungsi hutan pun bertambah tidak sekadar pendidikan dan menambah penghasilan, tetapi bisa menjadi obyek wisata. Hampir setiap liburan, hutan buatan ini dikunjungi wisatawan baik domestik maupun asing.

Ketika memasuki Wanagama akan langsung dinikmati hembusan asing, kicauan burung, dan aksi akrobatik berbagai jenis kupu-kupu. Sinar matahari di siang hari yang kadang menusuk-nusuk kulit, tidak bakal dirasakan di sini. Rindangnya pepohonan menjadi senjata ampuh melawan gerahnya siang hari. Justru keteduhan dan ketenangan yang bakal dirasakan. Sepertinya Wanagama adalah tempat asing di Gunungkidul.

Perjalanan menuju kawasan ini juga enak dinikmati, tidak sampai satu jam dari arah Yogya ke timur. Begitu lepas dari pertigaan Piyungan, jalanan mulai meliuk dan menanjak. Sesekali jika berhenti di tepi jalan, akan bisa melihat kota Yogya. Begitu sampai di pertigaan Gading, belok kanan. Sekitar lima kilometer berikutnya sudah masuk Wanagama. Jika menumpang angkutan umum, dari pertigaan Gading banyak ojek yang siap mengantar ke hutan buatan tersebut. (Heru Prasetya)

WANAGAMA, HUTAN DI TENGAH AREA TANDUS (2)


Proses penggundulan kawasan Desa Banaran, Kecamatan Playen, Gunungkidul, Provinsi DIY sebenarnya baru dimulai ketika tentara Jepang menjajah Indonesia, sekitar 1945. Mereka membabat semaunya. Itu masih ditambah penjarahan terhadap hasil hutan oleh masyarakat setempat. Jadilah, dalam kurun waktu amat singkat hutan Banaran dan sekitarnya menjadi gundul.

Sedangkan proses penghijauan berawal dari keinginan UGM memiliki lahan untuk pendidikan dan latihan bagi mahasiswanya. Sekitar 1963 dimulailah kerja sama antara perguruan tinggi tertua di Indonesia ini dengan Dinas Kehutanan Provinsi DIY sebagai pengelola hutan yang sudah berubah menjadi hamparan cadas tersebut. Awalnya, kerja sama ini untuk areal seluas 10 hektar.

Seperti menanam di atas batu. Pernyataan itu pernah disampaikan almarhumah Profesor Oemi Hani’in Suseno. Dia adalah pelopor pembangunan Hutan Wanagama dan pernah menjadi Dekan Fakultas Kehutanan UGM. Karena gigih dalam menghutankan kembali kawasan ini, Prof Oemi meraih Kalpataru tahun 1989 sebagai Pembina Lingkungan.

Bukan pekerjaan mudah. Para perintis bersama masyarakat sekitar memilih jenis pohon tertentu yang mampu bertahan hidup di tempat tandus berbatuan tersebut. Tanaman pertama yang dicoba adalah murbei (Morus alba). Alasan pemilihan tanaman ini selain karena tidak mudah rontok, daunnya juga bisa dimanfaatkan sebagai makanan ulat sutera. Ada dua hasil sekaligus, penghijauan berhasil dan memberi pekerjaan kepada masyarakat sekitar dengan memetik daun murbei. Hasil petikan itu dibeli pengelola Wanagama sebagai pakan pada budidaya ulat sutera yang juga dikembangkan di situ untuk modal pengembangan hutan. (Heru Prasetya)

WANAGAMA, HUTAN DI TENGAH AREA TANDUS (1)


Siapa menyangsikan ketandusan wilayah Gunungkidul, Yogyakarta? Bahkan ketika disebut namanya, sudah terbayang hamparan tanah yang sebagian besar merupakan batuan tanpa pepohonan. Ini memang kenyataan. Pada musim kemarau masyarakat harus membeli air bersih untuk sekadar memandikan ternak, artinya kebutuhan manusia disingkirkan lebih dulu. Pada musim hujan kebutuhan air lebih banyak dipenuhi oleh mata air yang muncul di beberapa tempat.

Tetapi ketika memasuki Desa Banaran, Kecamatan Playen, Gunungkidul, orang dibuat tercengang. Tak ada kesan kering kerontang, tandus, atau apa pun namanya yang menggambarkan wilayah yang gersang. Sebaliknya, kawasan tersebut justru hijau, di beberapa tempat muncul mata air. Pepohonan menjulang tinggi dengan akar mencuat ke permukaan seakan mencengkeram tanah.

Itulah Wanagama, hamparan hutan negara seluas 600 hektar yang kini dikelola Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta. Wanagama merupakan gabungan dari dua kata “wana” dan “gama”. Kata pertama artinya hutan, sedangkan kata kedua singkatan dari Gadjah Mada (maksudnya UGM).

Didalamnya bisa dilihat aneka macam pohon tumbuh dengan subur, seperti akasia, secang, mahoni, jati, sengon, flamboyant, merbau, lamtoro, cendana, kayu putih, dan eboni. Beberapa di antaranya termasuk langka, yakni eboni atau kayu hitam (Dysporos sp.) yang bibitnya didatangkan dari Sulawesi, dan Eucalyptus asli Papua tapi justru sulit tumbuh di tempat asalnya.

“Untuk membangun Wanagama seperti ini perlu waktu yang panjang,” kata Sukirno Dwiasmoro Prianto, salah satu pengelola Wanagama.

Wanagama memang bukan hutan asli. Dahulunya kawasan tersebut sama seperti umumnya kondisi tanah Gunungkidul: kering dan tandus. Meski Sungai Oya berkelak-kelok di salah satu sisinya, tapi tidak mampu menyuburkan Desa Banaran dan sekitarnya. Istilah paling pendek untuk kawasan tersebut ketika itu adalah hutan batu, sebuah tempat yang dipenuhi hamparan batu. (Heru Prasetya)