Thursday, March 04, 2010

TUGU YOGYA SIMBOL BERSATUNYA RAKYAT DAN PENGUASA


(Tugu Yogya 1928)

Tugu Yogya adalah salah satu bangunan peninggalan Sultan Hamengku Buwono I. Pembangunan Tugu dilakukan untuk memperingati rasa kebersamaan raja (pada waktu itu Pangeran Mangkubumi) dengan rakyat untuk melawan Belanda. Tugu tersebut dibangun setahun setelah Perjanjian Gianti dengan ketinggian 25 meter.
Posisi Tugu sekarang berada di perempatan, membatasi empat jalan besar yaitu Jalan Mangkubumi (ke selatan), Jalan AM Sangaji (ke utara), Jalan Jenderal Sudirman (ke timur), dan Jalan Pangeran Diponegoro (ke barat).

Puncak Tugu awalnya menjadi titik pandangan Sultan sewaktu menghadiri upacara Grebeg di Bangsal Manguntur, di Sitihinggil Lor. Bangsal Manguntur posisinya di Keraton Yogyakarta, sekitar tiga kilometer dari Tugu ke arah selatan.

Dalam bahasa Belanda, Tugu Yogya lebih terkenal dengan sebutan white paal. Sedangkan masyarakat Yogyak generasi tua sering menyebutnya Tugu Pal Putih. Ada juga masyarakat yang menyebut Tugu Golong Gilig. Hal itu tidak terlepas dari ciri-ciri fisik bangunan itu.

Bentuknya memang gilig (bulat panjang) dengan puncak berbentuk bola atau bulat (golong). Golong gilig juga dimaksudkan sebagai simbol rasa kebersamaan rakyat dan raja dalam melawan Belanda. Menyatunya niat, kehendak, dan tindakan.

Tugu ini pernah runtuh pada 10 Juni 1867 karena gempa bumi hebat pada waktu itu. Oleh penguasa Belanda, kemudian dirombak pada 1889 sehingga mengalami perubahan bentuk seperti sekarang ini dan tingginya tinggal 15 meter.

Perombakan dilakukan agar Tugu tidak lagi menjadi simbol kebersamaan rakyat dengan raja. (Heru Prasetya/Diolah dari Berbagai Sumber)

No comments: