
Nama laki-laki dalam foto ini adalah Dipo Berdopo, 56 tahun. Nama aslinya Ngatiran, kelahiran Bantul dan kini tinggal bersama istrinya di Dusun Srumbung, Desa Pengkok, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.
Mengapa berganti nama? ”Setelah menjadi abdi dalem di sini kemudian diberi kekancingan (surat keputusan) dari Kraton dengan nama Dipo Berdopo. Jadi nama itu peparing (pemberian) Ngarsa Dalem (maksudnya Sultan Hamengku Buwono – kini ke X),” jelas Dipo Berdopo sambil duduk bersila di sebelah timur Bangsal Kencono, Kompleks Kraton Yogyakarta.
Pagi itu ia berbusana tradisional Jawa. Tatap matanya teduh, tidak terpengaruh hilir mudik wisatawan yang berkunjung. Pepohonan rimbun di sekitarnya menambah betah duduknya meski hanya beralaskan tanah pasir. Sebagai abdi dalem, kini Dipo Berdopo berpangkat Bekel Nem.
Abdi dalem adalah masyarakat umum yang mengabdi dengan kewajiban yang sudah ditetapkan, seperti menjaga kawasan tertentu milik Kraton. Saat itu ia duduk bersama Dipo Ratmanto (66 tahun), abdi dalem berpangkat Jejer, satu pangkat lebih rendah dibanding Bekel Nem. (Heru Prasetya)

No comments:
Post a Comment