
Dipo Berdopo (depan) dan Dipo Ratmanto, dua abdi dalem Kraton Yogyakarta.
Besarkah gaji seorang abdi dalem Kraton Yogyakarta? Inilah jawaban Dipo Berdopo, salah seorang abdi dalem berpangkat Bekel Nem.
”Itu (gaji) bukan tujuan utama mengabdi di Kraton. Diterima sebagai abdi dalem saya sudah mantep. Hidup rasanya lebih tentrem, ayem, dan rejeki lancar,” jelas laki-laki bertinggi badan 110 sentimeter ini.
Ia tidak sungkan ketika menyebut gaji sebagai Jejer besarnya Rp 3.000 per bulan. Itu ia alami selama lima tahun. Karena setelah itu pangkatnya naik menjadi Bekel Nem dengan gaji Rp 5.000 per bulan sampai sekarang.
Jelas, jika abdi dalem dianggap pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari, gaji tersebut hanya cukup untuk sekali makan satu orang.
Tapi, seperti dikatakan Ngatiran alias Dipo Berdopo, menjadi abdi dalem lebih untuk ketenteraman dan ketenangan hidup. Seakan dengan berbaur dalam satu lingkungan bersama Sultan Hamengku Buwono segala hal untuk menjalani hidup menjadi enteng.
Seperti abdi dalem lainnya, ayah dari seorang anak berumur 12 tahun yang duduk di kelas 6 Sekolah Dasar (SD) ini hanya perlu datang di Kraton sekali dalam 12 hari untuk melaksanakan tugas sebagai penjaga Gedong Regol Gapura Bangsal Ksatriyan. Di Bangsal ini disimpan gamelan milik Kraton, seperti Kyai Gunturmadu dan Nagawilaga. Keduanya adalah gamelan yang dikeluarkan dan dibunyikan tiap tahun pada perayaan Sekaten.
Pada tiap kedatangan ke Kraton, Dipo Berdopo melalui liku-liku transportasi. Dari rumahnya ia berjalan kaki sekitar empat (4) kilometer ke jalan raya terdekat. Dari sisi menumpang angkutan desa berupa kendaraan bak terbuka sejauh sekitar tujuh (7) kilometer sampai di Jalan Piyungan, kemudian dilanjutkan dengan naik bus umum dua kali untuk sampai di Kraton. Biaya satu kali jalan sampai Kraton Rp 6.000.
”Saya dari rumah pukul 06.00, sampai di Kraton sekitar pukul 09.00. Piket di sini sehari semalam. Pulang keesokan harinya setelah pengganti piket datang. Bermalam di salah satu ruang di Regol Gapura ini. Satu kelompok piket terdiri sembilan orang,” jelas Dipo Berdopo yang di rumahnya mengolah tanah tegalan, merawat dua ekor sapi serta beberapa ekor ayam ini.
Suami Paikem (31 tahun) yang hanya sempat sekolah hingga kelas II SD ini mengaku punya pengalaman aneh-aneh ketika sedang bertugas di Kraton, terutama pada malam hari. Misalnya ada suara pintu gerbang diketuk dari luar, tetapi ketika dibukakan ternyata tidak ada orang. Ia juga pernah seperti dikejar-kejar harimau. (Heru Prasetya)

No comments:
Post a Comment