
Semasa Soeharto masih menjadi Presiden Republik Indonesia, nama Dalem Kalitan sangat populer, bahkan menjadi salah satu lokasi tujuan wisata. Tetapi sekarang Dalem Kalitan seolah sudah dilupakan.
Kompleks rumah tradisional tersebut berada di atas tanah seluas 7.000 meter persegi, tepatnya berada di Jalan Kalitan 146 Penumping, Solo, Jawa Tengah. Seperti rumah tradisional Jawa lainnya, ruang-ruang rumahnya terdiri atas pendapa, sentong tengah, sentong kiwa, sentong tengen, gandok kiwa, dan gandok tengen.
Sedangkan di bagian depan kanan terdapat bangunan baru sederhana yang dipakai sebagai pos keamanan. Di sinilah, dulu ketika Soeharto masih memimpin negeri ini, aparat keamanan selalu berjaga.
Beberapa pohon yang tumbuh di dalam kompleks tersebut antara lain adalah sawo, mangga, dan duwet putih. Khusus pohon duwet putih, menurut penuturan Kelik alias Suparno, ditanam sendiri oleh Siti Hartinah atau Tien Soeharto beberapa waktu sebelum meninggal dunia. Istri Kelik masih saudara dekat Tien Soeharto, sehingga dipercaya sebagai pencoba setiap makanan – untuk mengetahi beracun atau tidak – yang akan dihidangkan kepada Soeharto dan istri ketika berada di Dalem Kalitan.
Mengapa disebut Kalitan? Menurut GPH Dipokusumo, putra Paku Buwono XII, kompleks tersebut dibangun awal abad 18. Sampai sebelum tahun 1965, pesanggrahan tersebut milik Paku Buwono X yang diberikan kepada putra bungsunya, Kanjeng Gusti Ratu Alit. Itulah sebabnya kompleks ini dikenal dengan nama Dalem Kalitan. (Heru Prasetya)

No comments:
Post a Comment