Thursday, February 18, 2010

DALEM KALITAN PERNAH DIPERLAKUKAN ISTIMEWA


Sekitar tahun 1970, saat Soeharto sudah menjadi presiden, kawasan yang kemudian dikenal dengan nama Dalem Kalitan dibeli seseorang. Siapa yang membeli, ada dua versi. Versi pertama menyebutkan pembelinya Kanjeng Pangeran Sumoharyomo, orangtua Tien Soeharto. Versi kedua menyebutkan bahwa pembelinya adalah Soeharto atas nama istrinya.

Yang pasti, sejak saat itulah Dalem Kalitan diperlakukan seperti layaknya rumah dinas presiden, yakni dengan penjagaan dari satuan elit. Tidak sembarang orang bisa masuk. Di bagian dalam terdapat tempat-tempat khusus untuk ruang kerja dan peristirahatan Soeharto dan keluarganya. Ketika Tien Soeharto belum meninggal dunia, Dalem Kalitan kerap dipakai sebagai tempat reuni keluarga besar Cendana.

“Yang bisa dipastikan, tiap bulan Ruwah, Pak Harto dan keluarga ziarah ke makam orangtua Bu Tien di Giribangun. Pada saat itulah mereka ke sini. Di luar itu, kadang-kadang juga menyempatkan mampir,“ ungkap Kelik, salah seorang kerabat dekat di Dalem Kalitan.

Bulan Ruwah merupakan bulan kedelapan dalam penanggalan Jawa. Atau jika dibandingkan dengan penanggalan Islam, maka bulan Ruwah selalu bersamaan dengan bulan Sya’ban (satu bulan sebelum Ramadhan). Dalam tradisi Jawa, bulan Ruwah dianggap waktu terbaik untuk melakukan ziarah kubur.

Perlakuan terhadap Dalem Kalitan menjadi istimewa, sehingga di mata masyarakat kompleks ini menjadi kawasan eksklusif. Tidak banyak yang tahu peristiwa apa saja yang sering terjadi di sini. Juga tidak banyak yang tahu siapa saja yang sering berkunjung di tempat ini, karena begitu mobil tamu dengan kaca tertutup masuk ke kompleks, tidak ada seorang pun yang bisa melihat siapa yang ada di dalamnya.

Tetapi menurut Kelik, hampir seluruh pejabat teras pemerintah di jaman Soeharto, pernah datang di Dalem Kalitan. Apa keperluannya? Macam-macam, katanya. “Ketika Pak Harto pas di sini, mereka melapor atau sekadar unjuk muka. Tapi ketika Pak Harto tidak di sini, saya tidak tahu apa maksudnya, mungkin sekadar kepengin didaftar bahwa sudah datang di tempat ini,“ katanya sambil tertawa.

Menurut rumor yang beredar, jika ingin menjadi pejabat atau tetap bertahan pada posisi jabatannya, maka harus sering datang di Dalem Kalitan. Ketika hal itu dikonfirmasikan ke Kelik, ia tertawa dan menjawab dengan pendek, “Mungkin saja.“ Ia sudah sering mendengar rumor seperti itu, tetapi sengaja membiarkan, karena perasaannya bangga karena orang lain mengira Kalitan adalah penentu negara. (Heru Prasetya)

No comments: