Wednesday, February 17, 2010

TENUN PEDAN SULIT BANGKIT

Terpuruknya tenun Pedan bisa dilihat dari sisa perajin yang masih setia menggeluti dengan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM). Tinggal dua persen, itu pun tidak bisa disebut tetap berkutat dengan warisan tersebut. Alatnya memang masih tetap, tetapi produknya sudah berbeda. Dengan kata lain mereka mencoba mendiversifikasi usaha. Jika dulu murni tekstil, kini sudah memproduksi jenis lain seperti hasil kerajinan.

Perajin di Dukuh lebih banyak mengolah kerajinan pandan lilit dan tenun lidi. Jumlah perajin tenun di sini sekarang tinggal 20-an orang.

Tenun pandan lilit maupun lidi biasanya digunakan untuk tas, tempat baju, dan tempat sampah. Hasil yang diperoleh untuk mengerjakan ini Rp 650 per meter.Dalam seharinya setiap perajin menghasilkan sekitar 10 meter.

Nasib tenun ATBM di Kunden, pedukuhan yang juga masuk wilayah Kelurahan Jetis Wetan, setali tiga uang dengan Dukuh. Mereka beramai-ramai melakukan perubahan bentuk produksi dari tekstil menjadi hasil kerajinan alat peraga Taman Kanak-kanak.

Untuk bisa bangkit lagi, tampaknya bukan hal mudah. Menurut Ponidi, upaya bangkit sudah berulang kali dilakukan tetapi selalu buntu. Jika bukan karena modal, juga karena pasar tidak seramai dulu. Masalah harga adalah segala-galanya. Pertimbangan pasar sangat pragmatis, barang berkualitas dengan harga murah akan dipilih, tanpa melihat dari mana asalnya.

“Tenun Pedan meski masih dikenal, tidak bisa memenuhi syarat berkualitas dan murah. Kami bisa mengerjakan dengan kualitas tinggi, tapi harganya juga tinggi. Kami juga bisa menyediakan dengan harga murah, tapi kualitasnya juga rendah. Dengan demikian kami memang harus menyadari bahwa masa kejayaan Tenun Pedan memang sudah lewat,” kata Ponidi dengan lesu.

Ia mengharapkan, pemerintah berperan dalam melindungi atau memproteksi keberlangsungan tenun ATBM di situ, misalnya menyuplai bahan baku dengan harga khusus. Seperti pada BBM yang diberlakukan harga beda antara perusahaan dengan lainnya. (Heru Prasetya)

No comments: