Nama ATBM atau Alat Tenun Bukan Mesin sudah tidak asing lagi, meski sebagian orang belum pernah melihat langsung alat tersebut. Ketidakasingan lebih disebabkan seringnya nama ATBM disebut dalam pelajaran tahun 1975-an tingkat sekolah dasar.
Satu tempat yang pernah menjadi sentra kerajinan ATBM adalah wilayah Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Bahkan hingga sekitar 1997/1998 nama Tenun Pedan masih sangat dikenal, bukan saja di Jateng, tapi juga Indonesia. Kala itu Tenun Pedan menjadi ikon provinsi tersebut dan berhasil mendongkrak pasar dalam maupun luar negeri.
“Ketika itu PNS pun wajib menggunakan Tenun Pedan,” kenang Ponidi (48 tahun), Ketua Koperasi Serba Usaha “Tri Tunggal” Kecamatan Pedan.
KSU “Tri Tunggal” mewadahi tiga kelompok perajin tenun ATBM, masing-masing Kelompok “Pandansari” beranggotakan 19 perajin di Pedukuhan Dukuh, Kelompok “Mawar Selendang” (5 anggota) di Pedukuhan Sanggrahan, dan Kelompok “Mawar Serbet” (15 anggota) di Pedukuhan Jembangan.
Seiring dengan bergantinya waktu, popularitas Tenun Pedan makin lama makin surut. Berawal dari krisis moneter yang berakibat naiknya harga baku tenun, sehingga harga tenun ATBM tidak mampu bersaing dengan tenun non-ATBM yang jauh lebih murah.
Situasi itu masih diperunyam dengan “serbuan” tekstil dari Cina dan India yang harganya jauh lebih murah. Konsumen pun lebih memilih tenun non-ATBM, sehingga produksi Tenun Pedan turun drastis. Situasi seperti ini tidak hanya dialami perajin tenun di Pedan, tapi juga tempat lain.
“Jika dihitung-hitung, tinggal dua persen warga di sini yang masih setia mengerjakan tenun ATBM. Terbanyak di Pedukuhan Dukuh. Lainnya lebih memilih menjadi buruh, ya buruh macam-macam termasuk di pabrik tekstil non-ATBM yang ada di sini,” jelas Ponidi. Dukuh masuk wilayah Kelurahan Jetis Wetan, Kecamatan Pedan.
Bagi Ponidi dan sebagian besar warga Pedan, hal itu merupakan kenyataan pahit yang harus dihadapi. Mengapa? Menjadi perajin tenun ATBM sudah dijalani berpuluh tahun karena merupakan warisan leluhur. Selama itu pula mereka menggantungkan hidup kepada ATBM. Ketika dipaksa keadaan untuk “pindah ke lain hati” mereka seperti berpisah dengan sanak saudaranya sendiri.
Bagi yang memilih menjadi buruh non tenun, mereka harus memulai segalanya dari nol, seperti menjadi buruh bangunan dan lain-lain. Sedangkan yang “terdampar” di perusahaan tekstil non-ATBM bisa dikatakan lebih beruntung, karena tetap ada “bau” tekstil dalam kehidupan sehari-harinya. (Heru Prasetya)
Wednesday, February 17, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment