
NAMA aslinya jadah. Karena ketika makan sering dibarengkan dengan tempe bacem, jadilah sebagai jadah tempe. Tempe bacem diletakkan di tengah-tengah antara dua dua jadah. Makanan khas kawasan wisata Kaliurang, Sleman, Provinsi DIY itu pun dikenal juga sebagai sandwich Jawa.
Berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran rata-rata 3x5 sentimeter, tapi tiap sudutnya melengkung, jadah tempe berbahan baku beras ketan dicampur kelapa diparut dan garam. Cara membuatnya sangat sederhana: beras ketan direndam air mentah sekitar 3-5 jam, kelapa diparut dan dicampur garam.
Beras ketan yang sudah direndam, kemudian ditanak hingga setengah matang. Setelah itu dicampur kelapa yang sudah diparut, dan ditanak lagi hingga masak. Berikutnya adalah melumatkan campuran beras ketan, kelapa diparut dan garam tadi, hingga benar-benar lumat. Jadah pun siap dibentuk untuk kemudian disajikan.
“Tidak ada cetakan, hanya menggunakan tangan. Karena sudah terbiasa, bentuk dan ukurannya rata-rata sama,” jelas Ny Wiro Sartono (78 tahun), anak keempat Ny Sastro Dinomo alias Mbah Carik yang sudah meninggal dunia tahun 1997 pada usia 110 tahun. Mbah Carik adalah pelopor jadah tempe khas Kaliurang.
Usaha Mbah Carik dimulai tahun 1950-an, saat pengunjung Kaliurang belum seramai sekarang. Menurut cerita Ida Kurniasih (30 tahun), cucu Ny Wiro Sartono, jadah tempe bikinan nenek buyutnya awalnya sekadar untuk oleh-oleh kerabat Keraton Yogyakarta yang sering mengadakan acara ritual di Kaliurang. Masyarakat lain juga membuat makanan, tetapi bukan jadah tempe seperti bikinan Mbah Carik.
Isteri Sultan Hamengku Buwono IX (almarhum), seperti BRAy Pintoko Purnomo dan BRAy Hastungkoro adalah orang-orang yang menyukai jadah tempe tersebut. Bahkan Mbah Carik mendengar kabar kalau HB IX juga menyukai jadah tempe bikinannya.
“Suatu saat ada utusan Ngarsa Dalem Kaping Sanga (maksudnya HB IX) yang menyampaikan dhawuh (saran) Ngarsa Dalem agar jadah tempe bikinan nenek buyut saya diberi nama Jadah Mbah Carik, agar Ngarsa Dalem tidak salah jika mengutus seseorang untuk membeli. Sejak saat itulah muncul nama Jadah Mbah Carik,” kisah Ida Kurniasih yang sekarang meneruskan usaha jadah tempe tersebut.
Ketika awal berjualan, kisah Ny Wiro Sartono, ibunya belum memiliki kios. Penganan berupa jadah dan tempe dijual berkeliling dengan menggunakan keranjang bambu yang digendong dengan kain. Pada saat-saat tertentu, Mbah Carik berjualan dengan kios sederhana di dekat kawasan Tlogo Putri Kaliurang.
Karena laris, satu dua orang warga sekitar kemudian membuat dan berjualan penganan yang sama yaitu jadah tempe. Jika dijumlah, sekarang ini di kawasan Kaliurang saja tidak kurang 100 orang berjualan jadah tempe. Kebanyakan mereka adalah warga Kaliurang dan sekitarnya.
Sebutan “carik” sendiri adalah sebutan untuk suami Ny Sastro Dinomo yang bekerja sebagai carik (sekretaris) di Desa Kaliurang. Setelah Sastro Dinomo meninggal dunia, sebutan “mbah carik” dilekatkan kepada istrinya, Ny Sastro Dinomo, dan kemudian melekat kepada produk jadah tempenya. Kebetulan suami Ny Wiro Sartono juga menjabat sebagai carik di Desa Kaliurang. Kini sebutan Mbah Carik itu melekat pada Ny Wiro Sartono, setelah suaminya meninggal dunia beberapa waktu silam.
Karena rasa dan namanya yang sudah dikenal, jadah tempe Mbah Carik menjadi langganan beberapa tokoh seperti Titiek Puspa, pelukis Affandi (almarhum), dan seniman Bagong Kussudiardjo (almarhum).

Soal harga juga tidak mahal. Untuk 10 biji jadah Rp 4.000, dan 10 tempe seharga Rp 4.000. Harga jadah tersebut terpaksa dinaikkan sekitar dua minggu lalu. “Untuk menyesuaikan kenaikan harga bahan baku, seperti ketan,” jelas Ida.
Sayangnya, seperti diakui Ny Wiro Sartono maupun Ida, jadah tidak bisa bertahan lama. Paling lama satu hari. Hal itu karena adanya campuran kelapa di dalamnya. Jika kelapa dikurangi, bisa lebih tahan lama, tetapi jadah menjadi lebih keras. Tetapi ada cara lain untuk “menyelamatkan” jadah yang terpaksa tidak habis dalam satu waktu hari, yaitu dengan dibakar atau digoreng.
Selain ratusan penjual jadah tempe di kawasan wisata Kaliurang, tiga anak-cucu Mbah Carik juga membuka usaha serupa di ruas Jalan Kaliurang. Kios jadah peninggalan Mbah Carik sepuh (almarhum Ny Sastro Dinomo) kini berada di Jalan Astamulya Kaliurang, atau hanya sekitar satu kilometer setelah pintu gerbang utama kawasan wisata Kaliurang. (Heru Prasetya/Artikel ini pernah dimuat Harian Jurnal Nasional)
Berbentuk empat persegi panjang dengan ukuran rata-rata 3x5 sentimeter, tapi tiap sudutnya melengkung, jadah tempe berbahan baku beras ketan dicampur kelapa diparut dan garam. Cara membuatnya sangat sederhana: beras ketan direndam air mentah sekitar 3-5 jam, kelapa diparut dan dicampur garam.
Beras ketan yang sudah direndam, kemudian ditanak hingga setengah matang. Setelah itu dicampur kelapa yang sudah diparut, dan ditanak lagi hingga masak. Berikutnya adalah melumatkan campuran beras ketan, kelapa diparut dan garam tadi, hingga benar-benar lumat. Jadah pun siap dibentuk untuk kemudian disajikan.
“Tidak ada cetakan, hanya menggunakan tangan. Karena sudah terbiasa, bentuk dan ukurannya rata-rata sama,” jelas Ny Wiro Sartono (78 tahun), anak keempat Ny Sastro Dinomo alias Mbah Carik yang sudah meninggal dunia tahun 1997 pada usia 110 tahun. Mbah Carik adalah pelopor jadah tempe khas Kaliurang.
Usaha Mbah Carik dimulai tahun 1950-an, saat pengunjung Kaliurang belum seramai sekarang. Menurut cerita Ida Kurniasih (30 tahun), cucu Ny Wiro Sartono, jadah tempe bikinan nenek buyutnya awalnya sekadar untuk oleh-oleh kerabat Keraton Yogyakarta yang sering mengadakan acara ritual di Kaliurang. Masyarakat lain juga membuat makanan, tetapi bukan jadah tempe seperti bikinan Mbah Carik.
Isteri Sultan Hamengku Buwono IX (almarhum), seperti BRAy Pintoko Purnomo dan BRAy Hastungkoro adalah orang-orang yang menyukai jadah tempe tersebut. Bahkan Mbah Carik mendengar kabar kalau HB IX juga menyukai jadah tempe bikinannya.
“Suatu saat ada utusan Ngarsa Dalem Kaping Sanga (maksudnya HB IX) yang menyampaikan dhawuh (saran) Ngarsa Dalem agar jadah tempe bikinan nenek buyut saya diberi nama Jadah Mbah Carik, agar Ngarsa Dalem tidak salah jika mengutus seseorang untuk membeli. Sejak saat itulah muncul nama Jadah Mbah Carik,” kisah Ida Kurniasih yang sekarang meneruskan usaha jadah tempe tersebut.
Ketika awal berjualan, kisah Ny Wiro Sartono, ibunya belum memiliki kios. Penganan berupa jadah dan tempe dijual berkeliling dengan menggunakan keranjang bambu yang digendong dengan kain. Pada saat-saat tertentu, Mbah Carik berjualan dengan kios sederhana di dekat kawasan Tlogo Putri Kaliurang.
Karena laris, satu dua orang warga sekitar kemudian membuat dan berjualan penganan yang sama yaitu jadah tempe. Jika dijumlah, sekarang ini di kawasan Kaliurang saja tidak kurang 100 orang berjualan jadah tempe. Kebanyakan mereka adalah warga Kaliurang dan sekitarnya.
Sebutan “carik” sendiri adalah sebutan untuk suami Ny Sastro Dinomo yang bekerja sebagai carik (sekretaris) di Desa Kaliurang. Setelah Sastro Dinomo meninggal dunia, sebutan “mbah carik” dilekatkan kepada istrinya, Ny Sastro Dinomo, dan kemudian melekat kepada produk jadah tempenya. Kebetulan suami Ny Wiro Sartono juga menjabat sebagai carik di Desa Kaliurang. Kini sebutan Mbah Carik itu melekat pada Ny Wiro Sartono, setelah suaminya meninggal dunia beberapa waktu silam.
Karena rasa dan namanya yang sudah dikenal, jadah tempe Mbah Carik menjadi langganan beberapa tokoh seperti Titiek Puspa, pelukis Affandi (almarhum), dan seniman Bagong Kussudiardjo (almarhum).

Soal harga juga tidak mahal. Untuk 10 biji jadah Rp 4.000, dan 10 tempe seharga Rp 4.000. Harga jadah tersebut terpaksa dinaikkan sekitar dua minggu lalu. “Untuk menyesuaikan kenaikan harga bahan baku, seperti ketan,” jelas Ida.
Sayangnya, seperti diakui Ny Wiro Sartono maupun Ida, jadah tidak bisa bertahan lama. Paling lama satu hari. Hal itu karena adanya campuran kelapa di dalamnya. Jika kelapa dikurangi, bisa lebih tahan lama, tetapi jadah menjadi lebih keras. Tetapi ada cara lain untuk “menyelamatkan” jadah yang terpaksa tidak habis dalam satu waktu hari, yaitu dengan dibakar atau digoreng.
Selain ratusan penjual jadah tempe di kawasan wisata Kaliurang, tiga anak-cucu Mbah Carik juga membuka usaha serupa di ruas Jalan Kaliurang. Kios jadah peninggalan Mbah Carik sepuh (almarhum Ny Sastro Dinomo) kini berada di Jalan Astamulya Kaliurang, atau hanya sekitar satu kilometer setelah pintu gerbang utama kawasan wisata Kaliurang. (Heru Prasetya/Artikel ini pernah dimuat Harian Jurnal Nasional)

No comments:
Post a Comment