Meski tersebar di banyak daerah, “pusat” orang Kalang tampaknya di Kotagede. Di sini, masih bisa dilihat peninggalan arsitektur mereka. Peninggalan itu mencerminkan bahwa orang Kalang memang kaya. Kemungkinan besar, di Kotagede-lah pusat bisnis mereka di masa lalu.
Terkucilnya orang Kalang tampaknya karena dua hal yang saling mendukung. Di satu sisi, orang Jawa umumnya mengucilkan, di sisi lain kalangan Kalang memang menutup diri. Tidak mudah (dan mungkin juga karena tidak mau) orang Jawa yang bukan Kalang masuk ke dalam komunitas orang Kalang.
Orang Kalang menerapkan endogami atau perkawinan sebatas di antara mereka sendiri. Perkawinan antarsepupu adalah biasa. Umumnya, anak laki-laki diharuskan mendapat istri dari kalangan Kalang sendiri. Untuk perempuan, ketentuan tersebut sedikit lebih longgar.
Tujuan endogami agar harta benda tidak keluar dari kelompoknya. Meski tidak dilakukan secara terbuka, banyak orangtua Kalang yang mempertunangkan anak-anak mereka sejak masih kanak-kanak. Maka, ketertutupan itu pun hampir sempurna. Ini menyebabkan orang di luar Kalang mudah mereka-reka cerita, misalnya orang Kalang menyembah patung anjing.
Mitsuko Nakamura, Guru Besar Antropologi dari Universitas Chiba, Jepang, dalam buku The Crescent Arises Over The Banyan Tree (1993), menulis bahwa orang Kalang pada mulanya adalah tawanan perang yang dibawa pulang Sultan Agung dari sebuah ekspedisi ke Bali, sekitar awal abad ke-17. Buku yang pokok bahasannya tentang Muhammadiyah itu, menyimpulkan tentang orang Kalang sebagai ”kasus ekstrem dari tradisi abangan di Kotagede,” misalnya mereka tidak mau membayar zakat fitrah.
Di Jawa, meski orang tak menjalankan syariat Islam, umumnya mereka membayar zakat fitrah menjelang Lebaran.
Orang Kalang juga tak bersosialisasi. Mereka umumnya tidak menyekolahkan anak-anaknya, tidak pula menyumbang untuk pertunjukan wayang atau karawitan. Mereka terkesan sangat pelit. Konon, sebagai orang yang punya banyak duit, mereka mengundang guru ke rumahnya.
Hasil penelitian Nakamura itu dibenarkan Muhammad Natsir Chirzin, pengurus Yayasan Kantil yang bergerak pada studi sosial, budaya, dan sejarah Kotagede. Ia menyebut, orang Kalang sebagai kelompok asosial. ”Karena itu, dulu, orang Kotagede merasa orang-orang tersebut perlu dikalangi (dibatasi),” tutur Muhammad Natsir.
Pendapat berbeda datang dari Abdul Muhaimin, pemimpin Pondok Pesantren Nurul Ummahat Kotagede. Kiai yang dikenal dengan sikap terbukanya terhadap golongan lain ini adalah penasihat spiritual orang-orang Kalang. Menurutnya, pandangan negatif terhadap kelompok Kalang lebih disebabkan rasa cemburu masyarakat lokal kepada masyarakat pendatang. Sebab, nasib para pendatang itu ternyata lebih baik secara ekonomi.
”Di mana-mana, perlakuan kelompok mayoritas kepada minoritas selalu menindas,” kata Abdul Muhaimin.
Menurut catatan yang dikumpulkan Tim Fakultas Hukum UGM, pada akhir abad ke-17, Sultan Agung mengumpulkan orang-orang Kalang pada satu tempat. Mereka dijadikan hamba-hamba raja. Namun, karena kemahiran dalam membuat benda-benda dari kayu (mungkin ini ada kaitannya dengan asal mereka, Bali), orang Kalang diserahi tugas mendirikan bangunan istana. Mereka membuat istana dan bahkan masjid untuk raja yang beragama Islam tersebut. (Heru Prasetya)
Tuesday, February 16, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment