Sejarah Orang Kalang tidak bisa dipisahkan begitu saja dari sejarah Kotagede, sebuah kawasan di Yogyakarta yang erat kaitannya dengan cikal bakal Keraton Ngayogyakarta. Orang Kalang pernah dikabarkan memiliki ekor. Tetapi ketika hal itu dikonfirmasikan ke beberapa keturunan Kalang sekarang, mereka membantah, bahkan ada yang berani menunjukkan pantatnya yang memang tidak berekor.
Peran orang Kalang tidak kecil. Mereka ikut merintis berdirinya Keraton Ngayogyokarto di tempat ini. Dalam perkembangannya mereka menjadi kaya raya. Beberapa bangunan kokoh sampai saat ini masih berdiri dan dipercaya sebagai peninggalan orang Kalang jaman itu.
Buku tipis, setebal 70-an halaman, yang terbit tahun 1973 berjudul Orang-Orang Golongan Kalang, memberi banyak penjelasan tentang keberadaan orang Kalang. Buku ini merupakan penulisan dari sebuah penelitian antropologi di tahun 1971 tentang orang Kalang.
Tiga peneliti – Soelardjo Pontjosutirto, Marjanto Poerwomartono, dan Herry Soeagijardjo – dari Fakultas Hukum UGM menelusuri ihwal orang Kalang. Dari dongeng, cerita rakyat, wawancara, riset pustaka dan lain sebagainya, disimpulkan bahwa orang Kalang sudah berdiam di Pulau Jawa sejak masa sebelum Hindu.
Menurut penelitian tiga periset tersebut, golongan Kalang secara agama dan budaya lambat mengikuti zaman, mereka memang tertutup. Konon, ketika Islam sudah masuk ke Jawa pun, orang Kalang dikabarkan masih bertahan dengan kepercayaan mereka sendiri: menyembah patung berbentuk anjing. Mungkin yang dimaksud patung itu adalah totem, kayu gelondongan yang dihiasi gambar-gambar dengan jalan menatahnya.
Lalu, sebagaimana juga terjadi di sudut dunia yang lain, mereka yang hidup di kerajaan, di kota, yang merasa lebih tinggi agama dan budayanya, mengejek golongan Kalang. Ejekan ini berkembang, dan muncullah cerita-cerita antara lain bahwa orang Kalang mempunyai ekor.
Ejekan dari mereka yang merasa ”kota” itu, menurut para periset ini, kemungkinan besar terdorong rasa iri. Orang-orang yang dianggap mau mengerjakan hal-hal yang dianggap pekerjaan kelas bawah ternyata menjadi kaya raya.
Dari penelitian disimpulkan bahwa jenis pekerjaan orang Kalang antara lain menjadi penebang kayu, tukang kayu, pembikin perabotan dan rumah, pengusaha transportasi (dari semula gerobak, termasuk gerobak pengangkut meriam Belanda, sampai truk), dan rentenir. Ini mungkin yang membuat orang sulit menghormati mereka.
Di Jawa, orang Kalang tersebar hampir di seluruh Jawa Tengah dan Jawa Timur. Komunitas Kalang ditemukan mulai dari Cilacap, Adipala, Gombong, Ambal Karanganyar, Petanahan, Solo, Tulungagung, hingga Malang. Di utara Jawa, tercatat di kota-kota seperti Tegal, Pekalongan, Kendal, Kaliwungu, Semarang, Demak, Pati, Cepu, Bojonegoro, Surabaya, Bangil, hingga Pasuruan terdapat komunitas Kalang. (Heru Prasetya)
Tuesday, February 16, 2010
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment